Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi meluncurkan skema investasi strategis di sektor protein dengan nilai mencapai Rp 44,5 triliun untuk memperkuat ketahanan pangan nasional pada Senin (10/8/2026).
Dilansir dari Katadata, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Satria Sjahrir, mengungkapkan bahwa langkah ini bertujuan untuk mengakses keahlian teknis dan jaringan distribusi global guna meningkatkan kapasitas produksi protein di dalam negeri.
Danantara berencana menjalin kemitraan dengan salah satu perusahaan protein terbesar di dunia melalui skema investasi yang dapat mencakup proyek greenfield maupun brownfield.
“Bentuknya bisa greenfield bisa brownfield, tentunya itu akan menjadi penambahan kapasitas buat sektor protein di Indonesia,” kata Pandu.
Kerja sama ini melibatkan investasi ekuitas senilai US$ 2,5 miliar untuk menguasai 25 persen saham pada perusahaan patungan yang akan mengelola operasional JBS Group di Australia dan Selandia Baru.
Total modal yang dikelola dalam kemitraan ini berpotensi mencapai US$ 5 miliar untuk mendanai berbagai akuisisi maupun pengembangan infrastruktur di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, serta Selandia Baru.
Strategi ini dirancang sebagai upaya kolaborasi dengan mitra internasional yang memiliki rekam jejak kuat dalam menjaga pertumbuhan bisnis di tengah fluktuasi pasar global.
Kemitraan ini diharapkan dapat membuka akses bagi Danantara terhadap ekosistem bisnis yang telah mapan di pasar internasional yang maju.
“Selain mendapatkan akses terhadap ekosistem bisnis yang telah mapan di pasar internasional yang maju, kemitraan ini diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman sekaligus jalur distribusi dari perusahaan protein global terkemuka,” ujar Pandu.
Global Chief Executive Officer JBS, Gilberto Tomazoni, menyebut kemitraan ini merupakan langkah krusial dalam strategi ekspansi perusahaan di kawasan Asia Tenggara.
“Bersama Danantara, kami berada pada posisi yang tepat untuk memperluas kehadiran kami di Indonesia dan Asia Tenggara, memperkuat rantai pasok protein regional, memperluas akses pasar, serta mempercepat pengembangan sektor protein Indonesia,” kata Gilberto.
Danantara menegaskan bahwa penyelesaian transaksi tersebut saat ini masih menunggu persetujuan dari otoritas regulator terkait serta pemenuhan berbagai persyaratan administratif yang lazim dalam dunia investasi.
Perusahaan menyatakan komitmen penuh untuk menyelesaikan seluruh tahapan transaksi sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di setiap yurisdiksi terkait.
Investasi ini menjadi bagian dari mandat jangka panjang Danantara dalam membangun kolaborasi dengan mitra strategis guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kehadiran modal besar ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi rantai pasok protein bagi masyarakat luas di masa depan.
Ringkasan
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi meluncurkan skema investasi strategis di sektor protein senilai Rp 44,5 triliun pada Senin (10/8/2026) untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui kemitraan dengan perusahaan global.
Investasi ini mencakup suntikan modal sebesar US$ 2,5 miliar untuk menguasai 25 persen saham pada perusahaan patungan yang mengelola operasional JBS Group di Australia dan Selandia Baru, dengan potensi total modal mencapai US$ 5 miliar untuk pengembangan infrastruktur dan ekspansi pasar.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Satria Sjahrir, menyatakan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk mengakses keahlian teknis dan jaringan distribusi global guna meningkatkan kapasitas produksi protein di Indonesia, dengan realisasi transaksi saat ini masih menunggu persetujuan regulator terkait.





