Bank Mandiri memastikan pelunasan kredit berasal dari operasional usaha batu bara debitur.
Jakarta – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyatakan PT Jhonlin Baratama memiliki kapasitas finansial yang memadai untuk melunasi seluruh kewajiban kredit dari hasil operasional sektor batu bara.
Penjelasan tersebut disampaikan Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia pada Senin (26/10).
“Bank menilai bahwa Debitur memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi seluruh kewajiban,” ujar Adhika dalam keterangan resmi perusahaan.
Bank Mandiri menegaskan bahwa sumber utama pelunasan kredit berasal dari arus kas operasional perusahaan dan dividen anak perusahaan di bawah naungan Jhonlin Group.
Perseroan hanya mempertimbangkan pendapatan dari kegiatan usaha batu bara dalam menghitung kapasitas pembayaran kembali atau repayment capacity debitur.
Fasilitas kredit yang diberikan kepada Jhonlin Baratama mencapai plafon sebesar Rp40 triliun.
Hingga saat ini, debitur telah menggunakan fasilitas sebesar Rp17 triliun untuk kebutuhan belanja modal serta pembiayaan industri batu bara dan sektor penunjangnya.
Bank Mandiri turut menerapkan analisis sensitivitas dengan menguji ketahanan pembayaran terhadap fluktuasi harga komoditas dan tingkat produksi perusahaan.
Selain arus kas utama, pihak bank menempatkan saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk dan PT Pradiksi Gunatama Tbk sebagai agunan tambahan.
Saham kedua emiten tersebut diposisikan sebagai sumber pelunasan sekunder atau second way out dengan penilaian yang konservatif.
Manajemen telah menyusun mekanisme penambahan agunan atau penurunan baki debet jika nilai jaminan tidak memenuhi syarat ketentuan internal.
Langkah tersebut diambil untuk memastikan profil risiko perseroan tetap terjaga sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Adhika memastikan total nilai agunan yang dijaminkan saat ini lebih besar dibandingkan dengan fasilitas kredit yang telah disalurkan.
“Dengan memperhitungkan harga terendah intraday saham JARR dan PGUN dalam 1 bulan terakhir, maka total Collateral Coverage Ratio masih terjaga di level 150 persen,” tegas Adhika.