Jakarta – Saham-saham milik sejumlah konglomerat besar mendominasi daftar emiten dengan tingkat kepemilikan terkonsentrasi paling tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) sekaligus menjadi penopang utama kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (16/7/2026).
Dilansir dari Katadata, data statistik bursa menunjukkan bahwa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) saat ini memegang predikat sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia yang mencapai nilai Rp 748 triliun atau setara dengan 7,08% dari total kapitalisasi pasar secara keseluruhan.
Posisi kedua dalam daftar tersebut diisi oleh emiten sektor data center yang terafiliasi dengan Grup Salim dan Toto Sugiri, yakni PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 474 triliun.
Emiten lain yang turut masuk dalam jajaran sepuluh besar kapitalisasi pasar tertinggi adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp 459 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 425 triliun, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di angka Rp 388 triliun.
Daftar emiten dengan kapitalisasi pasar jumbo juga mencakup PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dengan nilai Rp 383 triliun, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) sebesar Rp 311 triliun, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp 273 triliun.
Melengkapi posisi sepuluh besar, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan kapitalisasi pasar senilai Rp 250 triliun, sementara PT Astra International Tbk (ASII) berada di urutan kesepuluh dengan nilai Rp 196 triliun.
Di antara sepuluh emiten tersebut, terdapat empat perusahaan milik konglomerat yang masuk dalam kategori konsentrasi kepemilikan saham sangat tinggi, yakni DCII, BREN, BYAN, dan MORA.
Analisis data menunjukkan bahwa PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencatatkan tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang mencapai angka 99,96% dari total saham yang beredar.
Selanjutnya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik taipan Prajogo Pangestu tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan saham sebesar 97,31%.
Emiten tambang batu bara milik Low Tuck Kwong, yaitu PT Bayan Resources Tbk (BYAN), memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 98,50%.
Terakhir, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) yang berada di bawah naungan Grup Sinarmas mencatatkan angka konsentrasi kepemilikan saham sebesar 95,65%.
Dominasi kepemilikan terpusat pada segelintir pemegang saham pengendali ini menjadi karakteristik utama yang membedakan emiten-emiten tersebut dibandingkan dengan perusahaan perbankan pelat merah yang memiliki struktur kepemilikan lebih tersebar di publik.
Ringkasan
Saham-saham milik sejumlah konglomerat mendominasi daftar emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar serta tingkat konsentrasi kepemilikan saham (HSC) tertinggi di Bursa Efek Indonesia per Kamis (16/7/2026). Fenomena ini menunjukkan peran sentral kelompok usaha besar dalam menopang pergerakan nilai pasar bursa nasional.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati urutan pertama dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp748 triliun, disusul oleh PT DCI Indonesia Tbk (DCII) senilai Rp474 triliun dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp459 triliun. Secara total, sepuluh emiten dengan kapitalisasi pasar jumbo ini mencakup perusahaan perbankan pelat merah hingga emiten sektor energi dan infrastruktur data.
Empat emiten di antaranya memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang sangat tinggi, yakni DCII (99,96%), BYAN (98,50%), BREN (97,31%), dan MORA (95,65%). Struktur kepemilikan yang terpusat pada pemegang saham pengendali ini membedakan mereka dari bank-bank BUMN yang memiliki basis kepemilikan publik lebih luas.





