Parapat – Ekonom Bank Danamon Hosiana E. Situmorang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 akan berada di kisaran 5,18 persen yang didorong oleh belanja pemerintah, sebagaimana disampaikan dalam pertemuan dengan redaktur media massa pada Jumat (31/7/2026).
Dilansir dari Katadata, proyeksi tersebut menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan capaian pada kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen secara tahunan.
Hosiana menjelaskan bahwa pemerintah terus mengalirkan belanja negara, terutama untuk mendanai berbagai proyek strategis nasional.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap berada pada level yang tinggi meskipun kekuatannya tidak sekuat periode sebelumnya.
Kinerja ekspor diprediksi mengalami perlambatan yang memberikan tekanan tersendiri terhadap pertumbuhan ekonomi pada periode April hingga Juni 2026.
Realisasi investasi pada kuartal II 2026 yang menembus angka Rp 511,8 triliun memberikan kontribusi signifikan terhadap laju ekonomi nasional.
Capaian investasi tersebut mencatat kenaikan sebesar 7,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi lebih banyak ditopang oleh Penanaman Modal Asing yang melonjak hingga 27,5 persen secara tahunan.
Di sisi lain, Bank Dunia dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa ekonomi Indonesia akan sulit bertahan di atas angka 5 persen tanpa reformasi produktivitas yang nyata.
Lembaga tersebut mengestimasi potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sebenarnya berada di level 4,2 persen.
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,0 persen pada tahun 2026 sebelum meningkat ke angka 5,2 persen pada periode 2027 hingga 2028.
Pencapaian target tersebut dinilai tidak akan terwujud secara otomatis karena sangat bergantung pada keberhasilan implementasi reformasi struktural.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini diakui masih sangat bergantung pada berbagai stimulus permintaan seperti insentif fiskal dan belanja pemerintah.
“Pertumbuhan ekonomi terkini didukung oleh stimulus dari sisi permintaan, seperti insentif fiskal dan belanja pemerintah yang terarah,” kata pihak Bank Dunia.
Kebijakan berbasis stimulus tersebut dinilai memiliki keterbatasan jika tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas produksi nasional.
“Tanpa reformasi yang mendorong produktivitas, skema insentif tersebut hanya akan meningkatkan pertumbuhan untuk sementara waktu, tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut akan sulit untuk dipertahankan secara berkelanjutan,” ujar Bank Dunia.
Ketergantungan pada stimulus jangka pendek tanpa perbaikan daya saing akan menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.
Ringkasan
Ekonom Bank Danamon, Hosiana E. Situmorang, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,18 persen, yang didorong oleh akselerasi belanja pemerintah dalam pertemuan di Parapat, Jumat (31/7/2026).
Proyeksi ini menunjukkan perlambatan dibandingkan capaian kuartal I 2026 sebesar 5,61 persen, di mana kinerja ekonomi periode April hingga Juni didukung oleh realisasi investasi sebesar Rp511,8 triliun yang didominasi oleh Penanaman Modal Asing dengan kenaikan 27,5 persen secara tahunan.
Di sisi lain, Bank Dunia memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko sulit bertahan di atas 5 persen tanpa reformasi struktural yang nyata, karena ketergantungan pada stimulus fiskal dan belanja pemerintah saat ini dinilai hanya memberikan dorongan sementara bagi produktivitas nasional.





