KNTI menekankan pentingnya akses permodalan dan fasilitas penyimpanan guna meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Jakarta – Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan nelayan kecil sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di kawasan pesisir.
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menyatakan program ini dapat menjawab persoalan mendasar di sektor perikanan jika dijalankan secara konsisten melalui kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, nelayan, serta masyarakat setempat.
Ketua Umum KNTI, Dani Setiawan, menegaskan bahwa pemerintah perlu lebih fokus pada pemberian akses pembiayaan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
“Sudah saatnya pemerintah harus fokus pada nelayan dan potensi menggerakkan ekonomi pesisir dengan pembiayaan modal yang konsisten,” kata Dani di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Dani menilai pembangunan infrastruktur saja tidak cukup, sehingga diperlukan pula perlindungan terhadap wilayah tangkap dan penguatan posisi tawar bagi nelayan tradisional.
Menurutnya, KNMP harus mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru yang berdampak pada ketahanan pangan dan perluasan lapangan kerja di desa-desa pesisir.
“Program KNMP berpotensi membuka lapangan kerja baru, menggerakkan aktivitas ekonomi desa, serta memperluas pemerataan pembangunan di kawasan pesisir,” ujar Dani.
Dia menambahkan bahwa pemerintah perlu memastikan adanya pendampingan berkelanjutan agar fasilitas yang dibangun benar-benar menjamin hak nelayan atas pembangunan yang adil.
“KNMP perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya negara memenuhi hak nelayan kecil atas pembangunan yang adil dan lingkungan yang sehat,” tegas Dani.
Terkait upaya perlindungan hak, Dani melihat adanya langkah nyata pemerintah dalam melakukan pengambilan kembali ruang secara hukum demi membela nelayan kecil.
“Kami melihat sebenarnya program pemerintah ada upaya nyata dalam melakukan territorial reclamation atau pengambilan kembali ruang secara hukum demi membela hak nelayan kecil,” ujar Dani.
Sementara itu, peneliti Indomasive Institute, Bagus Mangundiwiryo, menyoroti pentingnya fasilitas penyimpanan dan distribusi untuk mengatasi kemiskinan struktural di kawasan pesisir.
Bagus menekankan bahwa infrastruktur seperti cold storage dan dermaga logistik sangat krusial untuk memutus ketergantungan nelayan terhadap tengkulak yang sering menekan harga jual.
“Kuncinya ada pada kedaulatan pendingin (cold storage), perbaikan dermaga logistik, serta integrasi teknologi tepat guna,” ujar Bagus.
Dia menjelaskan bahwa fasilitas pendingin memungkinkan nelayan menjaga kualitas ikan sehingga mereka memiliki fleksibilitas dalam menentukan waktu penjualan saat harga pasar menguntungkan.
Penguatan infrastruktur logistik yang dibarengi dengan akses permodalan diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.