Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari Kamis (13/8/2026) di tengah optimisme pelaku pasar terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat yang melandai.
Dilansir dari Katadata, analis teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan indeks saat ini berada pada fase wave v dari wave (c) yang berpotensi membawa IHSG bergerak menuju kisaran 6.440 hingga 6.544.
“IHSG berpeluang melanjutkan kenaikan, namun dalam skenario terburuk indeks rawan terkoreksi ke rentang 5.890–6.192 untuk membentuk wave (b),” kata Herditya dalam risetnya.
Pihak MNC Sekuritas menetapkan area support indeks berada di kisaran 6.201–6.029, sementara level resistance dipatok pada rentang 6.454–6.599.
Terkait strategi investasi, analis merekomendasikan strategi buy on weakness pada saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) di harga Rp 1.625–Rp 1.715 dengan target harga hingga Rp 1.915.
Selain itu, saham PT Timah Tbk (TINS) juga menjadi pilihan dengan area akumulasi di Rp 3.650–Rp 3.730 serta target harga maksimal di Rp 3.920.
Secara terpisah, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memprediksi level support IHSG berada di 6.292 dan 6.242, sedangkan resistance berada di 6.406 dan 6.454.
Nafan mencatat bahwa IHSG mendapatkan sentimen positif dari rilis data inflasi Amerika Serikat bulan Juli yang tercatat sebesar 3,4% secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi konsensus.
Data inflasi tersebut turut menekan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve, di mana pasar melihat peluang bank sentral AS mempertahankan bunga pada September 2026 mencapai 62%.
Di sisi lain, pasar domestik tengah mencermati hasil MSCI August 2026 Index Review yang memutuskan untuk mendepak sembilan emiten dari Small Cap Index, termasuk ARTO, BUKA, dan ESSA.
Perubahan lainnya mencakup penurunan status saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari Global Standard Index ke Small Cap Index yang akan berlaku efektif mulai 1 September 2026.
Menanggapi kebijakan MSCI tersebut, Nafan menilai keputusan tersebut didorong oleh metodologi teknis terkait likuiditas dan free float, bukan semata-mata mencerminkan kondisi fundamental perusahaan.
Mirae Asset Sekuritas turut memberikan rekomendasi akumulasi beli pada saham PT Energi Mega Persada (ENRG) di rentang harga Rp 1.240–Rp 1.360.
Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) juga disarankan untuk dikoleksi di area harga Rp 1.885–Rp 2.020 dengan memperhatikan level manajemen risiko yang ketat.
Investor asing sendiri tercatat membukukan net foreign buy sebesar Rp 482,79 miliar pada perdagangan terakhir, meski secara tahun berjalan masih mencatatkan net foreign sell yang cukup besar.
Nafan menyarankan agar pelaku pasar tetap fokus pada saham dengan fundamental solid serta disiplin dalam menerapkan strategi manajemen risiko di tengah fluktuasi indeks.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (13/8/2026), didorong oleh optimisme pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat yang melandai sesuai ekspektasi.
Meskipun indeks berpotensi menguat ke kisaran 6.440–6.544, pasar tetap mencermati hasil tinjauan indeks MSCI yang mendepak sembilan emiten dari Small Cap Index serta menurunkan status saham CPIN, yang dipicu oleh faktor teknis likuiditas dan free float.
Sebagai langkah strategis, analis merekomendasikan strategi buy on weakness pada saham-saham pilihan seperti UNVR, TINS, ENRG, dan WIFI, sembari menekankan pentingnya disiplin manajemen risiko di tengah catatan net foreign buy yang mulai masuk ke pasar domestik.





