Singapura – Harga minyak acuan dunia mengalami koreksi pada Kamis (13/8/2026) setelah sempat mencatatkan kenaikan selama enam sesi perdagangan berturut-turut di tengah ketidakpastian perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Dilansir dari Katadata, harga minyak mentah Brent turun 1,2% menjadi US$ 87,92 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,3% ke level US$ 82,21 per barel.
Pergerakan harga komoditas energi ini masih menunjukkan tren kenaikan mingguan meskipun pasar terus berada dalam kondisi fluktuatif selama beberapa bulan terakhir.
Para pelaku pasar terus mencermati perkembangan upaya diplomasi antara Teheran dan Washington yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda kemajuan signifikan terkait akses Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pihak Amerika Serikat saat ini memegang kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut.
Kondisi kebuntuan diplomasi terjadi karena kedua negara masih mempertahankan posisi masing-masing, terutama dengan berlanjutnya blokade pelabuhan Iran oleh pihak Amerika Serikat.
Pemerintah Pakistan yang bertindak sebagai mediator mengungkapkan bahwa proses perdamaian yang lebih luas telah terhenti, meski tenggat waktu nota kesepahaman masih bisa diperpanjang.
Ketegangan di Timur Tengah yang diperparah dengan konflik antara Ukraina dan Rusia telah memperketat pasokan minyak mentah global serta produk olahan energi lainnya.
Serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi di wilayah konflik tersebut turut memicu ketidakpastian bagi para investor di pasar komoditas.
Chief Investment Strategist Saxo Markets, Charu Chanana, mengatakan bahwa volatilitas akan tetap menjadi ciri utama pasar hingga upaya diplomatik berhasil membuka kembali Selat Hormuz dan memberikan kepastian produksi.
Pelemahan permintaan juga menjadi kekhawatiran baru karena tingkat harga yang tinggi mulai menekan konsumsi energi di berbagai negara.
Badan Energi Internasional atau IEA melaporkan bahwa pasar minyak global menghadapi defisit pasokan sebesar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini.
Angka defisit tersebut tercatat dua kali lipat lebih besar dari proyeksi sebelumnya akibat dampak berkepanjangan dari konflik AS-Iran.
IEA juga memberikan peringatan bahwa permintaan minyak mentah dunia sedang tertekan oleh kenaikan harga yang terus terjadi.
Defisit pasokan pada tahun 2026 ini diprediksi menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir.
Di sisi lain, persediaan minyak mentah di Amerika Serikat justru melonjak sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu.
Peningkatan stok tersebut merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023.
Lonjakan stok di kawasan Pantai Teluk AS dipicu oleh melemahnya ekspor serta naiknya volume impor minyak dari Arab Saudi dan Venezuela.
- Drone Ukraina menyerang pabrik pupuk hingga kilang minyak Rusia.
- Harga minyak mentah turun, Pertamina buka peluang turunkan harga oli.
Ringkasan
Harga minyak dunia mengalami koreksi pada Kamis (13/8/2026) setelah minyak Brent turun 1,2% menjadi US$ 87,92 per barel dan WTI melemah 1,3% ke level US$ 82,21 per barel akibat kebuntuan perundingan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketidakpastian akses di Selat Hormuz menjadi pemicu utama fluktuasi pasar, di mana upaya diplomasi yang dimediasi Pakistan belum menunjukkan kemajuan signifikan di tengah posisi kedua negara yang tetap keras terkait blokade pelabuhan.
Kondisi ini diperparah oleh laporan Badan Energi Internasional (IEA) mengenai defisit pasokan global sebesar 1,8 juta barel per hari, meskipun di sisi lain persediaan minyak mentah di Amerika Serikat justru melonjak sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu akibat penurunan volume ekspor.





