Singapura – Harga minyak acuan dunia mengalami penurunan tajam pada Senin (3/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran di tengah upaya pembukaan kembali jalur perundingan damai.
Dilansir dari Katadata, langkah pembatalan serangan tersebut memicu sentimen positif di pasar global yang sebelumnya sempat tertekan oleh ketegangan geopolitik yang berkepanjangan.
Harga minyak Brent tercatat anjlok sebesar 4,7% ke posisi US$ 83,77 per barel pada pagi hari.
Pada awal sesi perdagangan, komoditas tersebut sempat mengalami kemerosotan lebih dalam hingga mencapai 7,3%.
Koreksi harga ini terjadi setelah sebelumnya minyak Brent mencatatkan lonjakan harga sebesar 25% sepanjang Juli sebagai kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret.
Minyak mentah West Texas Intermediate turut melemah dengan penurunan sebesar 4,8% menjadi US$ 80,64 per barel.
Komoditas gas alam di Eropa juga mencatatkan pelemahan signifikan dengan penurunan hingga 6,3% pada awal perdagangan di pasar Asia.
Lonjakan harga yang terjadi sepanjang Juli dipicu oleh pecahnya konflik setelah gencatan senjata bulan Juni runtuh dan meluas hingga ke kawasan Laut Merah serta Yordania.
Keputusan pembatalan serangan diambil Presiden Trump setelah mendapatkan permintaan dari sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, untuk mengedepankan jalur diplomasi.
Melalui unggahan di Truth Social, Presiden Trump menyatakan kesediaannya membatalkan aksi militer dengan syarat adanya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“Semua orang, mulai bekerja dan selesaikan itu,” kata Donald Trump.
Di sisi lain, negara-negara produsen di kawasan Teluk tetap berupaya mengamankan jalur ekspor alternatif di tengah ketidakpastian situasi keamanan.
Turki dan Irak telah menyepakati perpanjangan perjanjian pipa minyak selama satu tahun dengan kapasitas ekspor mencapai 750.000 barel per hari.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa perundingan antara Iran dan Oman mengenai rute baru di sekitar Selat Hormuz kini telah memasuki tahap akhir.
Juru bicara kementerian menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak mencakup pembahasan mengenai status penutupan atau pembukaan Selat Hormuz.
Negara-negara utama OPEC+ juga telah menyetujui kenaikan kecil pada kuota produksi mereka sebagai langkah pemulihan pasokan yang sempat dipangkas pada tahun 2023.
Kementerian Energi Kazakhstan melaporkan bahwa Caspian Pipeline Consortium tetap beroperasi dengan penerimaan minyak sebesar 100.000 ton per hari mulai 1 Agustus.
Laju ekspor melalui jalur tersebut kini sangat bergantung pada kesediaan operator kapal tanker dalam mengambil risiko melintasi area perairan yang rawan konflik.
Sebelumnya, serangkaian serangan terhadap kapal tanker di dekat fasilitas Laut Hitam telah menyebabkan gangguan distribusi pada salah satu jalur utama ekspor minyak mentah Kazakhstan tersebut.
Ringkasan
Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam pada Senin (3/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran demi membuka ruang bagi perundingan damai. Keputusan tersebut meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga komoditas energi secara signifikan.
Minyak mentah Brent anjlok 4,7% ke posisi US$ 83,77 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate melemah 4,8% menjadi US$ 80,64 per barel. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak sempat melonjak 25% sepanjang Juli akibat konflik yang meluas di kawasan Laut Merah dan Yordania.
Sebagai respons atas situasi keamanan, negara-negara di kawasan Teluk kini fokus mengamankan jalur ekspor alternatif melalui kerja sama pipa minyak dan perundingan rute baru di sekitar Selat Hormuz. Sementara itu, OPEC+ telah menyetujui kenaikan kuota produksi untuk membantu pemulihan pasokan global di tengah ketidakpastian distribusi.



