Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan bahwa kembalinya Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia ke level 50,2 pada Selasa (4/8/2026) merupakan sinyal positif bagi kebangkitan sektor industri nasional setelah sempat mengalami tekanan.
Dilansir dari Katadata, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyebutkan bahwa pemulihan manufaktur ini masih berada pada tahap awal dan distribusinya belum merata di seluruh sektor.
Ia mengungkapkan bahwa dunia usaha saat ini terus mencermati dinamika permintaan baik dari pasar domestik maupun ekspor karena kedua faktor tersebut akan sangat menentukan keberlanjutan ekspansi industri ke depan.
Sejauh ini, terdapat beberapa sektor yang mulai menunjukkan pemulihan lebih kuat dibandingkan lainnya.
- Sektor industri makanan dan minuman mencatatkan tren positif.
- Industri otomotif dan bahan bangunan mulai menggeliat kembali.
- Sektor industri yang terkait dengan proyek infrastruktur serta program hilirisasi menunjukkan performa yang menjanjikan.
Di sisi lain, sektor padat karya masih menghadapi tantangan berat akibat tekanan harga dan ketatnya persaingan global.
Industri tekstil, garmen, dan alas kaki dinilai masih terbebani oleh belum pulihnya permintaan dari berbagai negara tujuan ekspor utama.
Erwin menyatakan bahwa prospek industri hingga akhir tahun 2026 masih cukup optimistis asalkan momentum pemulihan yang ada saat ini dapat terus dijaga dengan baik.
Menurutnya, penguatan daya beli masyarakat menjadi syarat mutlak agar permintaan domestik tetap mampu menjadi penopang utama pertumbuhan industri nasional.
Pemerintah juga diharapkan mampu menjaga kepastian kebijakan serta kemudahan berusaha guna mendorong masuknya investasi baru maupun ekspansi kapasitas produksi di dalam negeri.
Ia menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta efisiensi biaya logistik harus tetap menjadi prioritas agar daya saing produk industri nasional tidak tergerus.
Percepatan investasi pada sektor hilirisasi dan manufaktur bernilai tambah diyakini akan menjadi motor penggerak penting bagi pertumbuhan industri di masa depan.
Erwin menekankan bahwa keberhasilan sektor manufaktur tidak bisa hanya diukur dari angka PMI yang berada di atas level 50 saja.
Indikator tersebut harus mampu diterjemahkan ke dalam peningkatan utilisasi pabrik, penyerapan tenaga kerja, serta kenaikan daya saing produk Indonesia di pasar global secara nyata.
Keberlanjutan pemulihan ini pada akhirnya akan sangat bergantung pada terjaganya stabilitas permintaan domestik, peningkatan realisasi investasi, serta perbaikan daya saing industri di kancah internasional.
Ringkasan
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali ke level 50,2 pada Selasa (4/8/2026), yang menandakan awal kebangkitan sektor industri nasional di tengah tekanan ekonomi global.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Erwin Aksa, menyatakan bahwa pemulihan tersebut belum merata karena sektor makanan, minuman, otomotif, dan hilirisasi mulai bangkit, sementara industri padat karya seperti tekstil dan garmen masih tertekan akibat lemahnya permintaan ekspor.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, Kadin menekankan pentingnya stabilitas daya beli masyarakat, kepastian kebijakan pemerintah, serta efisiensi logistik agar angka PMI tersebut dapat berdampak nyata pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya saing produk nasional.





