Timur Tengah – Harga minyak acuan dunia kembali mencatatkan penguatan tajam pada Kamis (23/7/2026) setelah kelompok militan Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker milik Arab Saudi di perairan Laut Merah.
Dilansir dari Katadata, insiden tersebut meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran global mengenai potensi gangguan serius pada rantai pasokan minyak mentah dunia.
Harga minyak jenis Brent melonjak sebesar 1,3% menjadi US$ 95,25 per barel pada perdagangan pagi, sementara minyak West Texas Intermediate menguat 1% ke level US$ 87,71 per barel.
Lonjakan harga Brent tercatat mencapai hampir 30% sepanjang bulan ini, memicu proyeksi dari sejumlah analis bahwa harga minyak dapat kembali menembus level psikologis US$ 100 per barel pada akhir tahun.
Ketegangan regional semakin memanas seiring dengan aksi militer Amerika Serikat yang melancarkan serangan terhadap target-target di Iran selama 12 hari berturut-turut.
Pemerintah di Teheran merespons aksi tersebut dengan serangan balasan yang menargetkan Kuwait sebagai sasaran utama dari rangkaian eskalasi ini.
Kelompok Houthi sebelumnya telah mengeluarkan ancaman untuk memblokade jalur pelayaran Arab Saudi di Laut Merah yang berfungsi sebagai rute ekspor alternatif vital.
Rute tersebut memungkinkan Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz dan tetap menyalurkan jutaan barel minyak setiap harinya ke pasar internasional.
Pihak Houthi menyatakan bahwa serangan menggunakan rudal dan drone terhadap kapal tanker bernama Encelia dan Layla dilakukan karena dianggap melanggar blokade yang mereka tetapkan.
Peristiwa ini menandai aksi pertama kalinya yang secara spesifik menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah, sekaligus membuka front konflik baru di kawasan tersebut.
Situasi ini memperburuk kondisi lalu lintas pelayaran yang sebelumnya sudah terganggu di Selat Hormuz akibat peningkatan kekerasan yang melibatkan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Strategi Komoditas di ANZ Group Holdings Ltd, Daniel Hynes, menyebut serangan di Laut Merah sebagai eskalasi serius dalam konflik yang sedang berlangsung.
“Apabila jalur tersebut terganggu, ketatnya pasokan di pasar minyak akan semakin memburuk,” kata Daniel Hynes.
Analis pasar di Phillip Nova Pte, Priyanka Sachdeva, menilai bahwa reli harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan di Laut Merah.
“Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar yang optimistis terhadap kenaikan harga dapat dengan nyaman membidik level US$ 100 per barel untuk Brent,” kata Priyanka Sachdeva.
Prospek kenaikan harga minyak juga didorong oleh sikap Amerika Serikat dan Iran yang sama-sama menunjukkan keengganan untuk memulai perundingan damai.
Ketidakhadiran dialog diplomatik meningkatkan probabilitas konflik akan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang dan memperketat suplai energi global.
Presiden Donald Trump dilaporkan telah melontarkan ancaman untuk mengebom infrastruktur strategis, termasuk jembatan dan pembangkit listrik di Iran.
Selain itu, pemerintah Amerika Serikat kembali menegaskan ancaman untuk menyerang Pickaxe Mountain yang diyakini sebagai lokasi fasilitas pengembangan nuklir Iran.
Ringkasan
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis (23/7/2026) setelah kelompok milisi Houthi menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, yang memicu kekhawatiran global akan gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent naik 1,3% menjadi US$ 95,25 per barel dan West Texas Intermediate menguat 1% ke level US$ 87,71 per barel, dengan para analis memprediksi harga berpotensi menembus US$ 100 per barel jika ketegangan terus berlanjut.
Situasi ini diperburuk oleh ketiadaan dialog diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta potensi blokade jalur pelayaran vital yang digunakan Arab Saudi untuk menghindari Selat Hormuz dalam mendistribusikan minyak mentah ke pasar internasional.



