Wall Street Loyo, Sektor AI Dihantam Aksi Jual

Bisnistalk.com, – New York – Sentimen investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menguap pada perdagangan Selasa (7/7) waktu setempat, memicu aksi jual yang menekan indeks bursa Wall Street. Kekhawatiran bahwa ekspektasi pasar telah melampaui kemampuan fundamental perusahaan untuk memenuhinya menjadi akar masalah, diperparah oleh kenaikan harga minyak mentah global.

Mike Bailey, Direktur Riset FBB Capital Partners, mengamati bahwa ekspektasi investor terhadap sektor AI saat ini telah melampaui kapasitas fundamental perusahaan untuk memenuhinya. “Ekspektasi sudah sangat tinggi, tetapi fundamental perusahaan kesulitan memenuhi tuntutan tersebut. Itulah yang mendorong pelemahan pasar hari ini,” ujar Bailey, mengindikasikan potensi berlanjutnya rotasi dana dari saham AI ke sektor lain.

Baca Juga

Saham Micron memimpin pelemahan dengan merosot 4,7%. Perusahaan teknologi lainnya seperti KLA, Marvell Technology, Broadcom, dan AMD juga tercatat mengakhiri perdagangan di zona merah. Imbasnya, ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) anjlok lebih dari 3%.

Di tengah tekanan pada sektor AI, investor mulai mengalihkan perhatian pada saham-saham di sektor kesehatan, keuangan, serta perusahaan teknologi berkapitalisasi besar. Saham Eli Lilly terpantau naik hampir 3%, sementara JPMorgan Chase dan Microsoft turut mengalami penguatan.

Kenaikan harga minyak dunia menambah sentimen negatif pada pasar. Peristiwa penyerangan Iran terhadap kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar di dekat Selat Hormuz memicu lonjakan harga komoditas energi.

Harga minyak mentah Brent ditutup naik 3% menjadi US$74,16 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat hampir 3%, mencapai US$70,44 per barel. Kenaikan harga minyak bahkan berlanjut setelah jam perdagangan, menyusul keputusan Amerika Serikat mencabut pengecualian yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran.

Tekanan terhadap saham AI sebenarnya sudah terlihat lebih awal di pasar Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok hampir 5%, didorong oleh penurunan tajam saham produsen cip Samsung Electronics yang merosot hampir 7%. Meskipun Samsung melaporkan lonjakan laba kuartal kedua, investor lebih menyoroti kekhawatiran terhadap belanja dan permintaan yang masih lemah. Di Eropa, indeks Stoxx 600 ditutup turun sekitar 0,7%.

Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai reaksi pasar terhadap laporan keuangan Samsung mencerminkan tingginya ekspektasi investor menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua. Ia memprediksi laba perusahaan kemungkinan tetap tumbuh kuat secara absolut. Namun, berbeda dengan kuartal pertama, ekspektasi pasar kini jauh lebih tinggi seiring kenaikan indeks S&P 500 sekitar 1.000 poin sejak musim laporan keuangan sebelumnya. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk membukukan kinerja jauh lebih baik demi memenuhi harapan investor.

Kabar mengenai pengembangan cip AI mandiri oleh perusahaan rintisan asal Cina, DeepSeek, turut memicu tekanan pada saham AI. Laporan tersebut mengindikasikan potensi berkurangnya ketergantungan perusahaan teknologi pada pasokan semikonduktor dari pemain besar seperti Nvidia dan Samsung.

Rekomendasi