Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa fundamental pasar saham domestik saat ini masih berada pada level yang relatif menarik bagi para investor, Senin (13/7/2026).
Dilansir dari pernyataan resmi pihak Bursa Efek Indonesia, penilaian tersebut didasarkan pada posisi Market Price to Earnings Ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di level 12,56 kali serta Market Price to Book Value (PBV) sebesar 1,57 kali.
Indeks Harga Saham Gabungan sempat mengalami koreksi sebesar 31,19% secara year to date hingga menyentuh level terendah di angka 5.432.
Meskipun terjadi tekanan, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 3,13% dalam satu minggu terakhir.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menekankan bahwa kondisi pasar modal nasional harus dipandang secara komprehensif dengan mempertimbangkan fundamental ekonomi, kinerja emiten, serta berbagai aksi reformasi yang dijalankan oleh regulator bersama Self-Regulatory Organizations (SRO).
Berbagai langkah reformasi tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan transparansi, memperkuat tata kelola, dan membangun pasar modal yang lebih kredibel.
“Kami optimistis pasar modal Indonesia akan terus menjadi pilihan investasi yang menarik bagi investor domestik maupun global dalam jangka panjang,” kata Jeffrey Hendrik.
Data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juni 2026 menunjukkan jumlah investor pasar modal telah mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID).
Jumlah investor saham dan surat berharga lainnya tercatat mencapai 9,9 juta SID, yang berarti mengalami kenaikan sebesar 15,1% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebanyak 8,6 juta SID.
Komposisi kepemilikan saham saat ini didominasi oleh investor domestik sebesar 61%, dengan rincian investor institusi mencapai 43,3% dan investor ritel sebesar 17,7%.
Investor asing saat ini tercatat memiliki porsi kepemilikan saham sebesar 39,1% dari total pasar.
Dari sisi aktivitas transaksi, investor domestik menyumbang 65,5% dari total nilai transaksi di BEI, yang terdiri dari kontribusi investor ritel sebesar 52,5% dan investor institusi domestik sebesar 13%.
Basis investor domestik yang semakin kuat ini dinilai membuat pasar modal Indonesia menjadi lebih resilien dalam menghadapi dinamika pasar global.
Hingga 31 Maret 2026, sebanyak 810 perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keuangan, di mana 595 emiten atau sekitar 73,46% di antaranya berhasil membukukan laba bersih.
“Sementara itu, 221 perusahaan tercatat membagikan dividen tunai sepanjang tahun 2026,” ujar Jeffrey Hendrik.
Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa ketahanan sektor eksternal akan menjadi faktor utama yang menentukan sentimen pasar pada semester kedua tahun 2026.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa investor diperkirakan akan semakin selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat.
Kemampuan emiten dalam mempertahankan kinerja di tengah dinamika ekonomi dan tingkat suku bunga yang relatif tinggi menjadi pertimbangan utama bagi para pelaku pasar.
“Dan juga kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan emiten yang lebih sensitif terhadap perubahan kondisi pasar,” kata Rully Arya Wisnubroto.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menambahkan bahwa perhatian pasar kini bergeser pada kemampuan Indonesia dalam menjaga ketahanan sektor eksternal setelah neraca perdagangan Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar.
Defisit tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut dan menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019.
Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan terhadap sektor eksternal akibat perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, serta tingginya impor minyak dan gas.
“Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit,” ujar Novani Karina Saputri.
Dampak dari kondisi ini adalah ketergantungan yang semakin besar terhadap arus modal portofolio guna menjaga stabilitas eksternal.
Pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, serta efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) akan menjadi faktor penentu bagi stabilitas rupiah dan sentimen pasar ke depan.
“Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan bauran kebijakan yang berorientasi pada stabilitas,” ucap Novani Karina Saputri.




