Aceh – Kabar duka menyelimuti peringatan Hari Gajah Sedunia setelah seekor anak gajah sumatra betina bernama Yuna dilaporkan mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, pada Selasa (11/8) atau tepatnya Kamis (13/8/2026).
Dilansir dari Katadata, kematian satwa berusia di bawah tiga tahun tersebut diduga kuat disebabkan oleh serangan elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata menjelaskan bahwa kondisi kesehatan Yuna menurun secara sangat drastis dan mendadak.
Serangan virus EEHV ini dikenal sangat mematikan karena mampu merusak lapisan dalam pembuluh darah serta memicu kebocoran cairan tubuh ke organ dalam gajah.
Tingkat kematian akibat paparan virus tersebut mencapai 80 persen dengan risiko syok fatal yang terjadi dalam waktu sangat singkat.
Penularan virus mematikan ini diketahui dapat menyebar melalui sekresi lendir dari belalai, air liur, maupun feses gajah yang terinfeksi.
Kronologi Kematian Yuna
Yuna sempat terpantau aktif beraktivitas seperti biasa pada Selasa pagi hingga siang hari sebelum kondisinya memburuk secara cepat.
Pawang gajah atau mahout mendapati Yuna dalam kondisi lemas dengan wajah membengkak serta lidah yang pucat kebiruan pada pukul 16.00 WIB.
Tim dokter hewan dari BKSDA Aceh segera memberikan tindakan medis darurat berupa infus dan multivitamin untuk menolong nyawa anak gajah tersebut.
Sayangnya, nyawa Yuna tidak tertolong dan ia dinyatakan mati pada pukul 20.48 WIB di lokasi penangkaran.
Petugas telah mengambil sampel organ tubuh untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab kematian secara lebih akurat.
Padahal, pemeriksaan kesehatan rutin pada Juni 2026 menunjukkan Yuna berada dalam kondisi sehat dengan skor indeks tubuh yang ideal.
BKSDA Aceh kini memperketat pengawasan medis terhadap gajah lain seperti Gerry, Yuyun, dan Dilan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus.
Kematian Gajah di Tengah Kebun Sawit
Peristiwa ini merupakan kematian kedua gajah sumatra di wilayah Aceh dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
Sebelumnya, seekor gajah jantan ditemukan mati di areal perkebunan sawit PT MPLI, Desa Kaloy, Aceh Tamiang, pada Minggu (9/8).
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan gajah tersebut diduga tewas akibat keracunan, meskipun gadingnya masih dalam kondisi utuh.
Peringatan Hari Gajah Sedunia
Hari Gajah Sedunia diperingati setiap 12 Agustus sebagai upaya global dalam meningkatkan kesadaran mengenai perlindungan satwa terancam punah.
Gajah sumatra saat ini menghadapi berbagai ancaman serius mulai dari perburuan liar, hilangnya habitat alami, hingga perdagangan ilegal.
Gerakan konservasi ini pertama kali diinisiasi pada 2012 oleh pegiat asal Kanada bernama Patricia Sims bersama Yayasan Reintroduksi Gajah dari Thailand.
Peringatan tahunan ini diharapkan dapat menggugah keterlibatan masyarakat luas dalam menjaga kelestarian ekosistem gajah di masa depan.
Ringkasan
Seekor anak gajah sumatra bernama Yuna mati di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Saree, Aceh, pada Kamis (13/8/2026) akibat dugaan serangan virus mematikan elephant endotheliotropic herpesvirus (EEHV). Kematian satwa berusia di bawah tiga tahun ini terjadi tepat setelah peringatan Hari Gajah Sedunia dan menambah daftar duka konservasi satwa di Aceh.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bahwa kondisi kesehatan Yuna menurun drastis secara mendadak dengan gejala pembengkakan wajah dan lidah kebiruan sebelum akhirnya tidak tertolong meski telah diberikan tindakan medis darurat. Sebagai langkah antisipasi, pihak BKSDA kini memperketat pengawasan kesehatan terhadap gajah lain yang berada di lokasi penangkaran tersebut.
Peristiwa ini menjadi kematian gajah kedua di Aceh dalam sebulan terakhir, menyusul temuan seekor gajah jantan yang mati akibat dugaan keracunan di areal perkebunan sawit pada 9 Agustus lalu. Kasus-kasus ini menyoroti kerentanan gajah sumatra yang saat ini menghadapi berbagai ancaman serius, mulai dari serangan penyakit hingga hilangnya habitat alami.





