Sumatra – Populasi orangutan di Pulau Sumatra berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan dengan tren penurunan jumlah individu yang konsisten, berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Rabu (22/7/2026).
Dilansir dari Katadata, survei komprehensif yang dilakukan oleh Kementerian Kehutanan bersama berbagai lembaga riset, akademisi, serta organisasi non-pemerintah sepanjang 2021 hingga 2023 menunjukkan bahwa saat ini hanya tersisa 12.410 individu orangutan di pulau tersebut.
Data tersebut mencakup 11.694 individu orangutan sumatra dan 716 individu orangutan tapanuli yang tersebar di wilayah jelajah seluas 18.670 kilometer persegi di Sumatra Utara.
Angka ini menunjukkan penurunan lebih dari seribu individu dibandingkan hasil survei pada 2011 yang mencatat populasi mencapai 13.846 individu.
Kondisi ini menjadi peringatan keras bahwa spesies primata ini berisiko menghadapi kepunahan dalam satu abad ke depan jika tren penurunan tidak segera dihentikan.
Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra pada tahun lalu diprediksi memperburuk situasi karena kerusakan parah pada ekosistem krusial seperti Leuser dan Batang Toru.
Studi bertajuk Extreme Rainfall Further Endangers The World’s Rarest Great Ape memperkirakan terdapat 18 hingga 120 individu orangutan tapanuli yang tewas akibat bencana tersebut di Blok Barat Batang Toru saja.
Risiko kematian orangutan semakin tinggi karena mereka sulit meloloskan diri dari longsor yang terjadi dengan cepat serta minimnya ketersediaan pakan akibat kerusakan kanopi hutan.
Orangutan tapanuli sendiri telah dikategorikan sebagai satwa yang sangat terancam punah atau critically endangered dengan jumlah populasi di bawah seribu individu.
Peneliti menetapkan orangutan tapanuli sebagai spesies terpisah dari orangutan sumatra sejak 2017 setelah analisis DNA dan morfologi menunjukkan perbedaan evolusi yang signifikan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyatakan bahwa data populasi ini merupakan alarm serius bagi pemerintah dan pelaku usaha di kawasan Batang Toru.
“Lanskap Batang Toru memiliki orangutan tapanuli dengan populasi yang memiliki kerentanan tinggi terhadap gangguan dan fragmentasi yang luar biasa,” kata Annisa.
“Seharusnya ini menjadi tambahan pengingat mengenai pentingnya perlindungan bagi kawasan ini,” kata Annisa.
Penurunan populasi ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk hilangnya habitat, perburuan liar, perdagangan satwa ilegal, serta konflik berkepanjangan dengan manusia.
Pemerintah didesak untuk memastikan koridor ekologis tetap terhubung dengan melindungi hutan tersisa dan memulihkan ekosistem yang menjadi penghubung.
Hasil survei mengungkap bahwa mayoritas populasi orangutan saat ini justru hidup di luar kawasan konservasi yang memiliki perlindungan ketat.
Tercatat hanya 38,5 persen orangutan sumatra dan 9,5 persen orangutan tapanuli yang berada di area konservasi, sementara sisanya tersebar di hutan lindung dan areal penggunaan lain.
Luas habitat orangutan juga terus menyusut, di mana sejak 2011 habitat orangutan sumatra berkurang sebanyak 91.825 hektare.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Heri Wahyudi Marpaung, menegaskan adanya mandat bagi pemerintah daerah untuk memperkuat tata kelola hutan lindung.
“Upaya konservasi harus dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola kawasan hutan, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, akademisi, serta masyarakat agar perlindungan habitat dan populasi orangutan dapat berjalan secara optimal,” kata Heri.
Ringkasan
Populasi orangutan di Sumatra mengalami penurunan drastis menjadi 12.410 individu berdasarkan survei Kementerian Kehutanan periode 2021-2023, yang memicu peringatan keras akan ancaman kepunahan spesies primata ini dalam satu abad ke depan.
Data terbaru menunjukkan penurunan lebih dari seribu individu dibandingkan tahun 2011, dengan rincian 11.694 orangutan sumatra dan 716 orangutan tapanuli yang kini lebih banyak tersebar di luar kawasan konservasi dengan perlindungan ketat.
Kondisi ini diperparah oleh hilangnya 91.825 hektare habitat sejak 2011, perburuan liar, serta bencana alam di ekosistem krusial seperti Batang Toru yang menyebabkan kematian puluhan individu orangutan tapanuli akibat kerusakan akses pakan dan fragmentasi hutan.





