Investor Asing Terus Lepas Saham di Bursa Indonesia

Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik penurunan harga saham di Bursa Efek Indonesia
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih hingga Rp 161 triliun di Bursa Efek Indonesia sepanjang awal 2024 hingga Juli 2026.

Jakarta – Investor global secara masif terus mengurangi eksposur kepemilikan mereka di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode awal 2024 hingga Rabu (15/7/2026) akibat kombinasi ketidakpastian kebijakan domestik dan tekanan ekonomi eksternal.

Dilansir dari Katadata, aksi jual bersih investor asing di pasar modal Indonesia telah mencapai angka fantastis yakni Rp 161 triliun selama kurun waktu tersebut.

Baca Juga

Kondisi ini diperparah dengan catatan penjualan bersih sepanjang tahun 2026 yang menyentuh angka Rp 76 triliun, menjadikannya level tertinggi sejak masa pandemi Covid-19.

Tren negatif ini mulai terlihat nyata sejak sepekan pasca-Pemilu Presiden 2024 dan belum menunjukkan indikasi pembalikan arah hingga perdagangan pekan kedua Juli.

Derasnya arus modal keluar turut menekan kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia secara signifikan.

Rata-rata kapitalisasi pasar menyusut dari Rp 15.849 triliun pada 2025 menjadi hanya Rp 9.897 triliun pada tahun ini.

Angka tersebut merepresentasikan penurunan nilai pasar sebesar 37,6% dibandingkan periode tahun sebelumnya.

Para analis menilai fenomena ini mencerminkan sikap investor yang sedang melakukan evaluasi ulang terhadap daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi.

Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menyebut bahwa masa transisi pemerintahan menjadi salah satu faktor pemberat yang memicu keraguan pelaku pasar.

Menurut Bernadus, investor sangat membutuhkan kepastian hukum dan konsistensi kebijakan untuk merasa aman dalam menanamkan modalnya.

“Dengan adanya kepastian kebijakan dan kepastian hukum, investor yang berinvestasi ke Indonesia dan memberikan Foreign Direct Investment merasa aman dan tenang,” kata Bernadus.

Di sisi lain, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti pengaruh kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai pemicu utama perpindahan dana ke aset yang lebih aman.

“Faktor dominan yang memicu outflow dari emerging markets sepanjang 2024 hingga 2026 adalah kebijakan moneter Amerika Serikat,” ujar Rahma.

Rahma menambahkan bahwa investor kini sangat mencermati disiplin fiskal serta stabilitas nilai tukar rupiah sebagai indikator fundamental makro.

Pergeseran perilaku ini terlihat dari komposisi transaksi di bursa yang kini lebih didominasi oleh investor domestik sebesar 60% dibandingkan porsi asing.

Selain sentimen pasar, Indonesia juga menghadapi tantangan dari lembaga penyedia indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices.

Lembaga-lembaga tersebut menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham serta rendahnya likuiditas yang menghambat kelayakan investasi di pasar modal Indonesia.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa bursa berkomitmen memperbaiki transparansi pasar demi memenuhi standar global.

“Bursa berkomitmen melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan transparansi di pasar modal Indonesia demi terselenggaranya pasar modal yang wajar, teratur, dan efisien,” kata Jeffrey.

Sementara itu, performa Indeks Harga Saham Gabungan tercatat sebagai yang terlemah di antara bursa regional dengan koreksi sebesar 34,74% secara year to date.

Investor global kini cenderung mengalihkan portofolio mereka ke pasar yang menawarkan pertumbuhan lebih stabil seperti India dan Vietnam.

Pemulihan arus modal asing di masa depan akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga kredibilitas regulasi dan integritas pasar modal.

Ringkasan

Investor global mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 161 triliun di Bursa Efek Indonesia sejak awal 2024 hingga 15 Juli 2026 akibat ketidakpastian kebijakan domestik dan tekanan ekonomi eksternal.

Kondisi ini memicu penurunan kapitalisasi pasar sebesar 37,6% menjadi Rp 9.897 triliun, dengan performa Indeks Harga Saham Gabungan yang terkoreksi 34,74% secara tahun berjalan, menjadikannya yang terlemah di antara bursa regional.

Para analis menilai fenomena ini didorong oleh kebijakan moneter Amerika Serikat serta keraguan investor terhadap konsistensi regulasi dan transparansi pasar di masa transisi pemerintahan, yang menyebabkan modal berpindah ke pasar yang lebih stabil seperti India dan Vietnam.

Rekomendasi