Jakarta – PT Indosat Tbk resmi meningkatkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sebesar 77% menyusul keberhasilan perusahaan memenangkan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Rabu (5/8/2026).
Dilansir dari Katadata, Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, mengumumkan revisi target investasi tersebut dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026.
Perusahaan kini mematok anggaran belanja modal sebesar Rp 23 triliun, melonjak dari proyeksi awal yang sebelumnya hanya dipatok pada angka Rp 13 triliun.
Tambahan dana sebesar Rp 10 triliun tersebut sepenuhnya akan difokuskan untuk pengembangan infrastruktur jaringan 5G nasional.
Langkah ini merupakan tindak lanjut strategis setelah Indosat dinyatakan sebagai pemenang lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang diumumkan secara resmi pada 10 Juli 2026.
Vikram menegaskan bahwa tambahan spektrum ini menjadi fondasi krusial bagi pertumbuhan bisnis perusahaan di masa depan.
Pihaknya berkomitmen untuk memastikan manfaat dari penambahan spektrum tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh hampir 100 juta basis pelanggan yang dimiliki perusahaan.
Perusahaan akan memanfaatkan alokasi baru ini untuk memperkuat identitas digital pelanggan serta mempercepat pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang lebih merata.
Sebelum memenangkan lelang terbaru, Indosat memiliki total spektrum sebesar 135 MHz di berbagai pita frekuensi.
Dengan tambahan 20 MHz pada pita 700 MHz dan 60 MHz pada pita 2,6 GHz, total spektrum yang dikuasai perusahaan kini mencapai 215 MHz.
Porsi kepemilikan spektrum tersebut kini mencakup sekitar 30,2% dari total spektrum seluler yang tersedia di tingkat nasional.
Keputusan ekspansi ini didukung oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini.
Indosat berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 30,7 triliun hingga Juni 2026, yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,1% secara tahunan.
Laba periode berjalan perusahaan melonjak signifikan menjadi Rp 4,42 triliun, jauh melampaui capaian pada semester I 2025 yang berada di angka Rp 2,51 triliun.
Kenaikan kinerja ini didorong oleh lonjakan trafik data sebesar 19,9% dan peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna atau average revenue per user (ARPU) sebesar 17,3% menjadi Rp 46 ribu.
Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat, Reski Damayanti, menjelaskan bahwa kombinasi frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz akan memberikan dampak teknis yang berbeda.
Frekuensi 700 MHz akan difokuskan untuk meningkatkan jangkauan layanan, sementara pita 2,6 GHz akan difokuskan untuk meningkatkan kapasitas jaringan secara keseluruhan.
Sinergi kedua frekuensi ini diproyeksikan membuka peluang monetisasi baru melalui layanan Fixed Wireless Access (FWA) dan berbagai inovasi berbasis 5G lainnya.
Pihak manajemen optimistis bahwa penguatan infrastruktur ini akan menjadi katalis utama dalam mendukung percepatan transformasi digital di Indonesia.
Ringkasan
PT Indosat Tbk resmi meningkatkan anggaran belanja modal (capex) tahun 2026 sebesar 77% menjadi Rp 23 triliun, menyusul keberhasilan perusahaan memenangkan lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Rabu (5/8/2026) untuk mempercepat ekspansi infrastruktur 5G nasional.
Tambahan dana sebesar Rp 10 triliun tersebut akan digunakan untuk mengoptimalkan spektrum baru yang kini mencapai total 215 MHz, di mana frekuensi 700 MHz difokuskan untuk perluasan jangkauan dan pita 2,6 GHz untuk peningkatan kapasitas jaringan.
Langkah strategis ini didukung oleh kinerja keuangan perusahaan yang solid sepanjang semester I 2026, dengan mencatatkan pendapatan Rp 30,7 triliun serta lonjakan laba bersih menjadi Rp 4,42 triliun, yang didorong oleh pertumbuhan trafik data dan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU).





