Utang Paylater Warga Indonesia Tembus Rp44 Triliun

Ilustrasi penggunaan layanan paylater melalui aplikasi di ponsel pintar untuk transaksi belanja daring.
Total penyaluran pinjaman paylater di Indonesia mencapai Rp 44 triliun hingga akhir Juni 2026.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan mencatat total penyaluran pinjaman buy now pay later atau BNPL oleh sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan di Indonesia telah mencapai Rp 44 triliun hingga akhir Juni 2026.

Dilansir dari Katadata, layanan keuangan berbasis digital ini kini telah bertransformasi menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup generasi muda di Tanah Air.

Baca Juga

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan bahwa kemudahan akses melalui platform fintech dan e-commerce menjadi pendorong utama minat masyarakat terhadap layanan tersebut.

Proses persetujuan yang cepat dan sederhana menjadikan metode cicilan ini sebagai alternatif pembiayaan konsumtif yang lebih praktis dibandingkan dengan kartu kredit konvensional.

Perilaku konsumsi masyarakat khususnya generasi muda menunjukkan kecenderungan menjadikan cicilan berbunga jangka pendek sebagai bagian dari gaya hidup, kata Dian dalam konferensi pers RDKB OJK yang berlangsung pada Selasa (4/8/2026).

Dari perspektif ekonomi makro, peningkatan penggunaan layanan ini mencerminkan upaya rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek melalui akses digital yang efisien.

OJK berkomitmen untuk terus mendukung perbankan dalam mengembangkan produk pembiayaan tersebut selama tetap menerapkan prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang ketat.

Data regulator menunjukkan baki debet atau outstanding paylater perbankan tercatat sebesar Rp 30,71 triliun hingga periode Juni 2026.

Nilai tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 33,54% secara tahunan, meskipun lajunya menunjukkan tren perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada Mei yang mencapai 37,72%.

Porsi kredit BNPL terhadap total kredit perbankan nasional saat ini masih relatif kecil, yakni berada di angka 0,34%.

Ruang ekspansi bagi produk keuangan ini dinilai masih cukup besar jika dibandingkan dengan keseluruhan portofolio kredit perbankan yang ada saat ini.

Jumlah rekening paylater perbankan kini telah menyentuh angka 32,8 juta rekening dengan rata-rata baki debet untuk setiap rekening sebesar 0,94 juta.

Kualitas kredit dari sektor perbankan menunjukkan perbaikan yang signifikan dengan penurunan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan menjadi 2,36% pada Juni 2026.

Peningkatan penyaluran pembiayaan paylater juga dicatatkan oleh perusahaan multifinance yang melesat 57,02% menjadi Rp 13,40 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan paylater masih menjadi salah satu segmen dengan ekspansi paling tinggi di industri pembiayaan.

Di sektor tersebut, piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan tumbuh sebesar 1,88% secara tahunan menjadi Rp 511,26 triliun yang didukung oleh kenaikan pembiayaan modal kerja, kata Agusman.

Kualitas pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan juga menunjukkan perbaikan dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Financing gross yang turun menjadi 3,09% pada Juni 2026.

Ringkasan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penyaluran pinjaman buy now pay later (BNPL) di Indonesia mencapai Rp44 triliun per Juni 2026, yang didorong oleh tingginya minat generasi muda terhadap kemudahan akses pembiayaan digital.

Penyaluran tersebut terbagi menjadi Rp30,71 triliun dari sektor perbankan yang tumbuh 33,54% secara tahunan, serta Rp13,40 triliun dari perusahaan pembiayaan yang melonjak 57,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tren pertumbuhan ini diiringi dengan perbaikan kualitas kredit, di mana rasio kredit bermasalah perbankan turun menjadi 2,36% dan rasio pembiayaan bermasalah perusahaan multifinance menjadi 3,09%, dengan total pengguna mencapai 32,8 juta rekening.

Rekomendasi