Bisnistalk.com, – Jakarta – PT Niramas Utama Tbk (JELI) mencatatkan debut impresif di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan lonjakan harga saham yang signifikan pada hari pertama penawaran umum perdana (IPO).
Saham emiten yang bergerak di industri makanan dan minuman ini langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA) pada Selasa (7/7).
JELI menjadi perusahaan kedua yang mencatatkan sahamnya di BEI pada tahun 2026, menandai langkah strategisnya untuk memperkuat eksistensi di pasar.
Perusahaan yang dikenal dengan produk Inaco ini menawarkan 266.000.000 saham baru, mewakili 21,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor pasca-IPO.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp 900 per saham, berada di batas bawah rentang harga awal Rp 900-Rp 1.120.
Melalui IPO ini, JELI berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp 239,4 miliar sebelum dipotong biaya emisi.
Direktur PT Niramas Utama Tbk, Yusuf Hamdani, menyoroti potensi besar pasar minuman di Indonesia yang terus berkembang.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk makanan dan minuman mencapai sekitar 50 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Yusuf menambahkan bahwa pertumbuhan industri makanan dan minuman jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, mencapai 7,04 persen pada kuartal I tahun 2026.
Ia mengenang awal mula perusahaan yang didirikan pada tahun 1990 sebagai usaha berskala kecil dengan produk utama nata de coco bermerek Inaco.
Sebanyak 56,70 persen dari dana IPO akan dialokasikan sebagai modal kepada PT NPS, anak perusahaan JELI.
Dana tersebut akan digunakan untuk belanja modal guna meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly, menunjang permintaan domestik dan ekspor.
Sekitar 10,04 persen dana IPO akan dialokasikan untuk belanja modal, termasuk pembelian mesin dan peralatan produksi baru.
Peningkatan kapasitas gudang serta efisiensi logistik juga menjadi bagian dari rencana penggunaan dana tersebut.
Sebesar 10,90 persen dari dana yang dihimpun akan digunakan untuk pembayaran sebagian utang jangka pendek.
Sisa dana sekitar 22,36 persen akan dialokasikan sebagai modal kerja untuk mendukung kelancaran operasional dan pertumbuhan bisnis.
Sementara itu, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) juga mencatatkan performa positif pada pencatatan perdananya di BEI.
JECX mencatat kelebihan permintaan (oversubscribed) sebesar 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat, dengan partisipasi dari 555.699 investor.
Perusahaan ini menawarkan 487.983.500 saham biasa atau 15,00 persen dari modal ditempatkan dan disetor pasca-IPO, dengan harga Rp 1.250 per saham.
Jumlah saham yang ditawarkan terdiri dari 325.322.300 saham baru (10,00 persen) dan 162.661.200 saham divestasi milik DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K) (5,00 persen).
JECX, yang bergerak dalam bidang aktivitas rumah sakit dan klinik swasta melalui jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics, menjadi perusahaan ketiga yang melantai di BEI pada 2026.
Pada hari perdagangannya, saham JECX meroket 24,8 persen atau setara 310 poin, diperdagangkan pada level Rp 1.560 per saham.
Melalui IPO ini, JECX berhasil menggalang dana sebesar Rp 609.979.375.000.
Dana tersebut terbagi atas Rp 406.652.875.000 dari penerbitan saham baru dan Rp 203.326.500.000 dari penjualan saham divestasi.
Dengan harga penawaran tersebut, kapitalisasi pasar JECX pada pencatatan perdana mencapai sekitar Rp 4,07 triliun.
Presiden Direktur JECX, Johan A. M. M. Hutauruk, menyatakan harapan agar IPO ini dapat memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Hal ini diharapkan dapat mendukung ekspansi dan pertumbuhan JEC secara keseluruhan.
Johan menekankan komitmen perusahaan untuk senantiasa mengedepankan semangat “Care with Experience”.
Semangat ini mencakup pelayanan yang berorientasi pada pasien, didukung oleh pengalaman dan keahlian JEC di bidang kesehatan mata.
Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru akan digunakan untuk memperkuat struktur keuangan.
Pelunasan sebagian pinjaman perbankan menjadi salah satu prioritas penggunaan dana tersebut.
Selain itu, dana IPO juga akan mendukung pengembangan entitas anak perusahaan JECX.
Kebutuhan modal kerja untuk operasional juga akan dipenuhi dari dana hasil IPO ini.
Salah satu fokus investasi utama JECX adalah pembangunan JEC Bali Sanur.
Klinik mata ini akan berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali, dengan konsep medical tourism.
JEC Bali Sanur dipersiapkan sebagai fasilitas mata berstandar global dengan penerapan konsep Blue Hospital.





