Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, secara resmi mengonfirmasi bahwa pemerintah Indonesia akan terus melanjutkan impor minyak mentah dari Rusia untuk memperkuat ketahanan energi nasional pada Selasa (28/7/2026).
Dilansir dari Katadata, kebijakan strategis ini dijalankan melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G) yang melibatkan Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) sebagai badan layanan umum di bawah naungan Kementerian ESDM.
“Tahap pertama sudah terealisasi, yang melakukan impor itu adalah pemerintah Indonesia, G2G,” kata Bahlil seusai mengikuti rapat terbatas di Istana Merdeka.
Langkah impor minyak ini diambil pemerintah sebagai upaya preventif untuk menjaga kecukupan cadangan energi di tengah dinamika pasokan global yang terus berkembang.
Pemerintah memastikan bahwa ketersediaan pasokan energi yang stabil menjadi prioritas utama guna menjamin kebutuhan masyarakat serta sektor industri dalam negeri tetap terpenuhi dengan baik.
“Ini akan terus menerus, tujuannya adalah untuk menjaga cadangan kita, jangan sampai terjadi kekurangan dan sekaligus memastikan bahwa energi dalam negeri kita bisa tersedia,” ujar Bahlil.
Terkait realisasi di lapangan, terdapat beberapa poin fakta mengenai pengiriman minyak tersebut:
- Sebanyak 770 ribu barel minyak mentah asal Rusia telah dikirimkan menggunakan kapal tanker Sierra yang berangkat dari Kozimo.
- Data kepabeanan mencatat nilai transaksi pengiriman minyak tersebut mencapai US$ 75 juta.
- Komoditas energi tersebut telah dikirimkan menuju Pelabuhan Balikpapan yang berlokasi di Kalimantan Timur.
Pengiriman ke wilayah Kalimantan Timur ini tercatat sebagai transaksi pertama yang dilakukan setelah kedua negara mencapai kesepakatan impor pada April lalu.
Langkah ini sekaligus menjadi indikasi bagaimana Moskow berupaya memanfaatkan eskalasi konflik di Iran untuk memperluas basis pelanggan minyak mentahnya di pasar internasional.
Kehadiran pasokan minyak dari Rusia diharapkan mampu memberikan fleksibilitas bagi Indonesia dalam mengelola neraca energi agar tetap aman dari guncangan pasokan global.
Pemerintah akan terus memantau perkembangan distribusi komoditas ini untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku serta mendukung stabilitas ekonomi dalam negeri.
Keberlanjutan skema G2G ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mencari berbagai sumber alternatif demi menjaga cadangan energi strategis nasional tetap berada pada level yang aman.
Dengan adanya kepastian pasokan dari berbagai jalur, pemerintah optimistis dapat memitigasi risiko kelangkaan energi yang mungkin terjadi akibat ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan penghasil minyak utama dunia.
Ringkasan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengonfirmasi pada Selasa (28/7/2026) bahwa pemerintah Indonesia akan terus mengimpor minyak mentah dari Rusia melalui skema kerja sama antarnegara (G2G) guna menjaga ketahanan dan kecukupan pasokan energi nasional.
Langkah strategis ini telah terealisasi melalui pengiriman perdana sebanyak 770 ribu barel minyak senilai US$ 75 juta yang diangkut menggunakan kapal tanker Sierra menuju Pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif pemerintah terhadap dinamika geopolitik global dan potensi gangguan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama, sekaligus untuk memastikan stabilitas kebutuhan energi bagi masyarakat dan sektor industri dalam negeri.



