Jakarta – Pemerintah Indonesia menargetkan percepatan aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada semester kedua 2026 untuk mengejar ketertinggalan kinerja pasar modal yang terjadi sepanjang paruh pertama tahun ini.
Dilansir dari Katadata, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa prospek pasar modal domestik tetap positif seiring dengan fundamental ekonomi nasional yang masih terjaga pada Rabu (12/8/2026).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,29% pada kuartal kedua 2026 meski angka tersebut mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan capaian pada kuartal sebelumnya.
Kondisi ekonomi nasional juga didukung oleh status sovereign rating yang berada di level layak investasi dari berbagai lembaga pemeringkat internasional.
Lembaga pemeringkat seperti S&P Global Ratings dan Fitch Ratings masing-masing menyematkan peringkat BBB, sementara Moody’s memberikan peringkat Baa2 bagi Indonesia.
Airlangga menekankan bahwa pemerintah tidak terlalu khawatir terhadap penilaian lembaga pemeringkat selama fundamental perusahaan di dalam negeri tetap terjaga dengan baik.
“Yang penting kita outlook perusahaannya itu baik, kemudian transparan dan juga free float juga semakin meningkat, maka kita tidak perlu takut kepada negara ataupun rating agency,” kata Airlangga dalam acara Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia 2026.
Pemerintah menilai kondisi fiskal Indonesia masih cukup sehat dengan defisit anggaran yang tetap terjaga di bawah angka 3% terhadap produk domestik bruto.
Airlangga mengakui bahwa aktivitas pasar modal pada semester pertama 2026 sempat mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Realisasi nilai IPO hingga Juli 2026 telah mencapai sekitar Rp 2,16 triliun melalui pencatatan tujuh perusahaan baru pada bulan tersebut.
Pemerintah berharap jumlah emiten baru akan terus bertambah seiring dengan perbaikan dinamika pasar modal di sisa tahun ini.
Data menunjukkan beberapa sektor mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan, antara lain sektor basic materials sebesar 258,9%, transportasi dan logistik sebesar 103,4%, serta sektor keuangan sebesar 39,8%.
Airlangga mengingatkan agar perusahaan tercatat tidak hanya berorientasi pada pendanaan, tetapi juga wajib menjaga kepercayaan investor melalui tata kelola yang transparan.
Peningkatan kualitas perusahaan melalui tata kelola yang baik dan peningkatan porsi free float saham dianggap sebagai kunci untuk menjaga kredibilitas pasar.
Pasar modal dipandang sebagai cerminan kondisi perekonomian nasional yang harus terus dijaga agar investor tetap berminat melakukan ekspansi usaha di Indonesia.
“Karena kepercayaan investor ini menjadi modal penting bagi investasi dan ekspansi usaha,” kata Airlangga.
Ringkasan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan percepatan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) pada semester kedua 2026 di Jakarta untuk memacu kinerja pasar modal yang sempat melambat di paruh pertama tahun ini.
Pemerintah optimistis terhadap prospek pasar modal domestik karena didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat, termasuk pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% pada kuartal kedua 2026 serta status peringkat layak investasi dari lembaga internasional seperti S&P, Fitch, dan Moody’s.
Untuk menjaga kredibilitas pasar, Airlangga menekankan pentingnya transparansi tata kelola perusahaan dan peningkatan porsi free float saham guna mempertahankan kepercayaan investor di tengah capaian nilai IPO yang baru mencapai Rp 2,16 triliun hingga Juli 2026.





