Tekanan Jual Melanda Bursa Global, Saham Teknologi dan Komoditas Terpukul

Detailed view of a stock market screen showing numbers and data, symbolizing financial trading.
Photo by <a href="https://www.pexels.com/@pixabay?utm_source=instant-images&utm_medium=referral" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Pixabay</a> on <a href="https://pexels.com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Pexels</a>

Jakarta, Bisnistalk.com – Tekanan jual kembali melanda pasar keuangan Asia pada Jumat (26/6), dengan saham-saham regional terpukul setelah sejumlah emiten teknologi menghadapi kekhawatiran baru soal lonjakan biaya komponen cip.

Di saat yang sama, langkah Apple menaikkan harga produk justru mempertegas bahwa reli sektor kecerdasan buatan tidak datang tanpa beban biaya yang besar.

Baca Juga

Di Korea Selatan, indeks KOSPI bahkan mengalami penghentian perdagangan untuk kedua kalinya dalam pekan ini.

Gangguan itu terjadi setelah saham-saham teknologi anjlok, dipicu sentimen negatif terhadap euforia booming AI yang mulai dibarengi pertanyaan soal keberlanjutan valuasi dan biaya produksi.

Mengutip Bloomberg, pelemahan pasar juga berlangsung bersamaan dengan meredanya kejatuhan yen, yang tertahan oleh kekhawatiran akan intervensi pemerintah Jepang. Mata uang Jepang itu sebelumnya sempat bergerak di sekitar level terlemah dalam 40 tahun.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 1,5 persen menjadi 74,1 dolar AS per barel, mendekati level terendah dalam empat bulan.

Penurunan ini terjadi setelah Saudi Aramco kembali mengaktifkan pemuatan di terminal Ras Tanura, yang menambah tekanan pada pasar energi.

Kontrak berjangka Nasdaq juga ikut melemah 1,3 persen setelah muncul kabar penundaan debut publik OpenAI.

Sementara itu, bursa Eropa diperkirakan dibuka turun 0,8 persen, mencerminkan sentimen hati-hati investor di tengah koreksi saham teknologi global.

Saham Apple menjadi salah satu yang paling terpukul, dengan penurunan 6,1 persen dan hilangnya nilai pasar sekitar 250 miliar dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah perusahaan menaikkan harga iPad dan MacBook untuk menutupi lonjakan biaya cip memori.

Kebijakan serupa juga ditempuh Microsoft pada konsol Xbox. Kenaikan biaya komponen yang semakin nyata ini langsung meredam antusiasme pasar terhadap laporan laba produsen cip Micron, sekaligus membuat investor lebih selektif menilai emiten yang punya eksposur besar ke industri AI, terutama karena biaya input terus membengkak.

Aksi ambil untung pun meluas ke kawasan Asia Pasifik. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 3 persen pada perdagangan Jumat.

Di pasar utama regional, Nikkei Jepang anjlok 4,2 persen, KOSPI Korea Selatan merosot 5,8 persen setelah sempat memicu circuit breaker, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,7 persen.

Di Indonesia, tekanan serupa juga terasa. IHSG tercatat turun 1,77 persen ke level 5.889 pada perdagangan siang ini pukul 14.26 WIB, sejalan dengan pelemahan yang terjadi di bursa-bursa regional.

Yen masih berada dalam tekanan di level 161,60 per dolar AS, nyaris menyentuh posisi terendah dalam empat dekade. Pergerakan mata uang itu dipengaruhi data ekonomi Amerika Serikat yang tumbuh cepat, tetapi dibayangi stagnasi pengeluaran konsumen.

Kondisi tersebut membuat indeks dolar sedikit turun ke 101,36. Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS juga melemah, dengan tenor 10 tahun berada di 4,3804 persen.

Di pasar logam mulia, tekanan jual berlangsung lebih dalam. Harga emas spot turun 11,5 persen menjadi 4.011 dolar AS per ons, sementara perak merosot 24,5 persen ke 56,7 dolar AS per ons.

Rekomendasi