Rupiah Melemah ke Rp18.135 per Dolar AS Akibat Tekanan Harga Minyak

Lonjakan harga minyak, risiko fiskal, dan ketidakpastian pasar modal picu pelemahan.

Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp18.135 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10).

Mata uang Garuda turun 55 poin atau 0,30 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta ketidakpastian kondisi geopolitik global.

Data mencatat harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) mencapai US$91,9 per barel pada akhir September.

Angka tersebut melampaui asumsi APBN yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.

Pemerintah juga mencatat belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September mencapai Rp376,8 triliun atau naik 54,1 persen secara tahunan.

Pengamat ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi tiga faktor utama.

Faktor tersebut meliputi kenaikan harga minyak dunia, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, serta ketidakpastian di pasar modal domestik.

Yusuf menyoroti harga minyak Brent yang sempat menyentuh level US$116 per barel sehingga meningkatkan kebutuhan dolar untuk membiayai impor energi.

Tingginya harga minyak dunia berpotensi memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi negara.

“Selisih yang cukup lebar ini meningkatkan risiko pelebaran defisit dan mempersempit ruang fiskal pemerintah,” ujar Yusuf kepada media pada Senin (26/10).

Tekanan terhadap rupiah juga bersumber dari arus keluar dana asing di pasar obligasi sebesar US$203 juta pada 21 Oktober.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut mengalami koreksi sekitar 1 persen pada perdagangan Senin (26/10).

Menurut Yusuf, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya disebabkan oleh penguatan dolar AS karena mata uang domestik tetap tertekan meski indeks dolar sedang melemah.

“Jika penyebabnya semata-mata faktor global, rupiah seharusnya ikut mendapat ruang untuk menguat ketika dolar melemah,” tutur Yusuf.

Ia menilai kondisi tersebut mengindikasikan meningkatnya premi risiko Indonesia di mata investor internasional.

Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 7,52 persen.

Angka depresiasi tersebut lebih dalam dibandingkan baht Thailand sebesar 6,37 persen dan rupee India sebesar 4,86 persen.

“Jadi, Indonesia tidak menghadapi tekanan ini sendirian, tetapi rupiah memang termasuk mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan,” tegasnya.

Rekomendasi