Jakarta – Pasar modal Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan pada Kamis (30/7/2026), di mana euforia penawaran umum perdana saham (IPO) yang biasanya menjanjikan keuntungan instan kini meredup akibat melemahnya kondisi pasar dan sikap investor yang semakin selektif.
Dilansir dari Katadata, fenomena ini tercermin dari kinerja saham-saham baru yang cenderung lesu serta penurunan drastis jumlah emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia dibanding periode tahun lalu.
Raut muka Delvi (32) tampak tidak antusias ketika menceritakan portofolio sahamnya yang tidak memberikan keuntungan seperti yang diharapkan selama bulan Juli.
Perempuan yang aktif di pasar modal ini mengaku bahwa keputusan membeli saham IPO sebenarnya lahir dari harapan untuk memperbaiki portofolionya yang terus memerah di tengah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 25% sejak awal tahun.
“Ikut IPO sekarang bukannya jadi untung, malah sudah buntung,” ujar Delvi.
Hingga 23 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia tercatat hanya mengawal tujuh perusahaan yang melakukan IPO, jauh di bawah capaian 18 emiten pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini dipicu oleh arus keluar dana asing yang mencapai sekitar Rp 161 triliun sejak awal 2024 hingga pertengahan 2026, sehingga likuiditas pasar menjadi semakin tipis.
Akibat likuiditas yang menyusut, investor kini tidak lagi sekadar mengejar keuntungan pada hari pertama, melainkan lebih mencermati kualitas tata kelola, rekam jejak manajemen, hingga prospek fundamental perusahaan.
“Dulu saya lebih melihat momentumnya, sekarang saya lebih hati-hati,” kata Delvi.
Direktur PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, Anung Rony Hascaryo, menilai perlambatan ini terjadi karena kondisi pasar yang sedang menantang bagi para calon emiten.
“Emiten kan pengennya pasti dapat harganya yang terbaik, mungkin ini belum meet aja ekspektasi mereka,” ujar Anung.
Di sisi lain, perusahaan yang menunda IPO kini lebih memilih menggalang dana melalui instrumen obligasi dan sukuk yang tetap menunjukkan aktivitas stabil di pasar.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat bahwa perusahaan kini menjadi jauh lebih selektif dalam membaca momentum sebelum memutuskan untuk masuk ke pasar.
Pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menambahkan bahwa transformasi perilaku investor ini merupakan bagian dari pendewasaan pasar modal di tengah ketidakpastian global.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Said Solihin, menegaskan bahwa bursa tidak lagi memprioritaskan kuantitas jumlah perusahaan yang melantai, melainkan fokus pada kualitas fundamental emiten.
“Kami tidak ingin sekadar mengejar kuantitas IPO, yang lebih penting adalah membangun pasokan perusahaan tercatat yang berkualitas,” ujar Said.
Meski target 1.100 perusahaan tercatat hingga tahun 2030 masih menjadi acuan, tantangan utama saat ini adalah menjaga agar pasar tetap menarik bagi pelaku bisnis dan memberikan perlindungan bagi investor.
Ringkasan
Pasar modal Indonesia mengalami penurunan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) yang signifikan pada Juli 2026 akibat melemahnya kondisi pasar, menyusutnya likuiditas, dan sikap investor yang lebih selektif. Hingga 23 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia hanya mencatat tujuh emiten baru, jauh di bawah capaian 18 emiten pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi lesu ini dipicu oleh arus keluar dana asing mencapai Rp161 triliun sejak awal 2024 yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Akibatnya, investor dan perusahaan kini lebih memprioritaskan fundamental bisnis serta tata kelola yang kuat dibandingkan sekadar mengejar momentum keuntungan jangka pendek.
Menanggapi situasi tersebut, otoritas bursa menyatakan fokus beralih dari kuantitas menuju kualitas emiten, sementara banyak perusahaan memilih mencari pendanaan alternatif melalui obligasi dan sukuk hingga kondisi pasar membaik.
