Korea Selatan Tawarkan Ekspor Teknologi Baterai dan Transmisi Listrik ke Indonesia

Upaya ini ditujukan untuk mendukung target pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Jakarta – Korea Selatan membuka peluang kerja sama ekspor teknologi baterai canggih dan transmisi listrik bawah laut ke Indonesia.

Teknologi tersebut ditargetkan mendukung ambisi Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt.

Kerja sama ini mencakup pemanfaatan jaringan transmisi listrik bertegangan tinggi arus searah atau High Voltage Direct Current (HVDC).

Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate (SFOC), Gahee Han, menyampaikan hal tersebut dalam workshop Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea (IKJN) di Jakarta, Jumat (30/10).

“Sejujurnya, sejak MoU ditandatangani pada April 2026, kami belum melihat banyak kemajuan,” ujar Gahee dalam forum tersebut.

Ia menegaskan bahwa pemerintah Korea Selatan memiliki ketertarikan kuat untuk mengekspor teknologi baterai dan sistem transmisi ke Indonesia.

Namun, Gahee menekankan bahwa Indonesia perlu memperbaiki regulasi pasar listrik agar investasi teknologi tersebut dapat memberikan kompensasi yang layak bagi pelaku usaha.

“Untuk memproduksi baja hijau, serta mengembangkan dan mengekspor teknologi baterai yang dapat menguntungkan pasar, Indonesia dan Korea perlu memperbaiki aturan pasar listrik agar teknologi tersebut memperoleh kompensasi yang memadai,” jelas Gahee.

Selain sektor baterai, Korea Selatan juga menjajaki potensi kerja sama di bidang baja rendah emisi melalui teknologi hydrogen-based direct reduction iron (DRI) milik POSCO.

Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menyarankan agar kerja sama baterai diarahkan untuk mendukung integrasi PLTS dengan sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).

“Untuk mengintegrasikan PLTS dengan sistem penyimpanan baterai agar dapat menjaga stabilitas jaringan listrik, diperlukan analisis dan desain sistem yang disesuaikan dengan masing-masing wilayah integrasi,” kata Deon.

Deon memperkirakan pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt membutuhkan investasi mencapai US$80 miliar yang bisa membengkak hingga US$100 miliar jika ditambah kebutuhan transmisi dan penyimpanan energi.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan harus menguasai teknologi melalui riset dan pengembangan.

“Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kerja sama dan transfer teknologi; kita juga harus berinvestasi dalam riset dan pengembangan, dengan mempertimbangkan sumber daya, iklim, serta kondisi yang berbeda di Indonesia,” tegas Deon.

Menurut Deon, opsi strategis yang dapat ditempuh adalah mendorong investasi riset bersama serta kepemilikan kekayaan intelektual bersama antara kedua negara.

Rekomendasi