IHSG Sesi Pertama Menguat Meski Saham LQ45 Lesu

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan sebesar 0,61% ke level 6.074 dalam perdagangan sesi pertama pada Selasa (14/7/2026) karena didorong oleh dominasi sentimen positif di sebagian besar sektor saham domestik.

Dilansir dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan tersebut mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 10,22 triliun dengan volume mencapai 21,83 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 1,83 juta kali.

Baca Juga

Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang cukup kuat dengan total 421 saham mengalami penguatan, sementara 182 saham terkoreksi dan 187 saham lainnya stagnan.

Kapitalisasi pasar IHSG tercatat mencapai angka Rp 10.615 triliun pada siang hari ini di tengah dinamika pergerakan harga saham emiten berkapitalisasi besar.

Meskipun indeks utama berada di zona hijau, indeks LQ45 justru mengalami pelemahan tipis sebesar 0,15% yang dipicu oleh tekanan jual pada sektor perbankan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau turun 1,20% ke level Rp 6.150 per lembar saham.

Sentimen negatif juga menekan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang terdepresiasi sebesar 1,05% ke harga Rp 2.480.

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turut mengalami penurunan sebesar 1,41% sehingga ditutup pada level Rp 4.190.

Sembilan dari sebelas sektor yang terdaftar di BEI berhasil mencatatkan kenaikan, dengan sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 1,78%.

Kenaikan signifikan di sektor infrastruktur didorong oleh lonjakan harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 6,19% ke Rp 3.430.

Kinerja positif ini sejalan dengan tren bursa saham Asia yang secara keseluruhan bergerak di zona hijau.

Indeks Straits Times mencatat kenaikan sebesar 0,10%, diikuti oleh Shanghai Composite yang tumbuh 0,03%, Nikkei naik 0,38%, dan Hang Seng menguat 0,28%.

Daftar saham yang masuk dalam jajaran top gainers adalah PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 13,85% ke Rp 740, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 9,43% ke Rp 580, serta PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang melesat 25% ke level Rp 340.

Di sisi lain, jajaran top losers meliputi PT Niramas Utama Tbk (JELI) dengan penurunan 11,37% ke Rp 1.130, PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR) turun 3,23% ke Rp 90, dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang melemah 1,91% ke Rp 1.025.

Variasi pergerakan harga ini menunjukkan adanya rotasi portofolio yang dilakukan oleh para pelaku pasar di tengah optimisme yang masih terjaga pada sektor energi terbarukan dan infrastruktur.

Analisis tren pasar menunjukkan bahwa ketahanan indeks domestik masih cukup kuat untuk menopang sentimen negatif dari saham perbankan berkapitalisasi besar.

Investor saat ini terus memantau perkembangan kebijakan ekonomi dan proyek strategis yang berpotensi memengaruhi emiten di masa mendatang.

Kondisi likuiditas yang cukup tinggi dengan nilai transaksi di atas Rp 10 triliun memberikan gambaran bahwa partisipasi investor masih sangat aktif di bursa.

Keseimbangan antara aksi beli pada sektor infrastruktur dan aksi jual pada sektor perbankan menjadi penentu utama arah pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan hari ini.

Rekomendasi