IHSG Diramal Turun Analis Rekomendasikan Saham DSSA PGEO RAJA

Jakarta, Bisnistalk.com – Tekanan jual yang masih membayangi membuat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berisiko melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari ini, setelah sebelumnya terkoreksi tajam 3% ke posisi 5.643.

Sejumlah analis menilai, penurunan indeks sudah melampaui perkiraan awal dan pasar belum menunjukkan tanda pemulihan yang kuat.

Baca Juga

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut pergerakan IHSG masih berada dalam fase yang rentan karena tekanan jual belum mereda. Ia menilai koreksi yang terjadi telah menembus target penurunan yang sebelumnya diproyeksikan.

Dalam skenario terbaik atau best case, Herditya melihat posisi IHSG masih berada pada fase wave (b) dari wave [iv] dalam skenario hitam. Dari pola tersebut, indeks masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area 5.472–5.540.

MNC Sekuritas juga memetakan level penting yang perlu dicermati pelaku pasar. Area support IHSG diperkirakan berada di rentang 5.486–5.317, sedangkan resistance berada pada kisaran 6.007–6.286.

“Cermati skenario merah dimana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3,” tulis Herditya dalam risetnya, Rabu (1/7).

Dalam analisis teknikal, support merupakan area harga yang kerap dianggap sebagai titik terendah sementara. Ketika harga mendekati area ini, minat beli biasanya meningkat sehingga mampu menahan pelemahan.

Sebaliknya, resistance adalah area yang berpotensi menjadi batas kenaikan harga karena tekanan jual cenderung muncul lebih besar ketika harga menyentuh level tersebut.

Di tengah kondisi indeks yang masih rapuh, MNC Sekuritas tetap mengeluarkan sejumlah rekomendasi buy on weakness. Salah satunya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), yang disarankan akumulasi beli pada rentang Rp 600–Rp 720 dengan target harga Rp 910–Rp 1.140. Adapun stoploss ditempatkan di bawah Rp 560.

Rekomendasi serupa juga diberikan untuk PT Rukun Raharja Tbk (RAJA). Saham ini dinilai menarik untuk buy on weakness pada area Rp 3.250–Rp 3.460, dengan target harga Rp 4.340–Rp 4.750 dan stoploss di bawah Rp 2.950.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas membaca kondisi teknikal IHSG masih belum stabil. Histogram positif MACD disebut terus mengecil dan berpotensi membentuk death cross.

Di saat yang sama, Stochastic RSI berada di area pivot dan masih bergerak turun. Dengan kombinasi indikator tersebut, IHSG diperkirakan berpeluang menguji level 5.500.

Dari sisi makroekonomi, pasar juga menunggu rilis data inflasi Indonesia untuk Juni 2026. Berdasarkan konsensus, inflasi bulanan diperkirakan naik menjadi 0,29% month to month (MoM) dari 0,28% pada Mei 2026. Secara tahunan, inflasi diproyeksikan meningkat ke 3,2% year on year (YoY) dari 3,08% YoY pada bulan sebelumnya.

Kenaikan inflasi itu diperkirakan sejalan dengan penyesuaian harga BBM Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026. Inflasi inti juga diperkirakan naik tipis menjadi 2,6% YoY dari 2,59% YoY pada Mei 2026.

Di saat yang sama, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 diperkirakan mencapai US$1,1 miliar.

“Meningkat dari US$0.09 miliar di April 2026, dengan pertumbuhan ekspor diperkirakan sebesar 4% YoY dan impor sebesar 18% YoY,” tulis Phintraco.

Sentimen lain yang ikut diperhatikan pasar adalah rencana pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun pada semester II 2026.

Program itu mencakup potongan tarif kereta api dan kapal laut Pelni sebesar 30% selama masa libur sekolah serta libur Natal dan Tahun Baru, disertai pembebasan tarif jasa kepelabuhanan untuk transportasi penyeberangan.

Pemerintah juga akan menyalurkan bantuan pangan kepada 33,24 juta penerima manfaat pada periode Juli hingga September 2026. Selain itu, program magang nasional turut disiapkan untuk mendorong penyerapan tenaga kerja.

“Stimulus juga diberikan melalui fasilitas bea masuk 0% atas impor LPG bagi industri petrokimia dan impor bahan baku plastik, serta tarif khusus PPh final sebesar 1.5% bagi para penulis,” tulis Phintraco.

Dalam daftar saham pilihannya, Phintraco Sekuritas merekomendasikan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan PT Remala Abadi Tbk (DATA).

Rekomendasi