Selat Hormuz, Timur Tengah – Harga minyak acuan dunia mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai level US$ 84 per barel pada Selasa (14/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan kembali blokade ketat terhadap kapal-kapal asal Iran yang melintasi jalur perdagangan vital di kawasan tersebut.
Dilansir dari Bloomberg, kenaikan harga ini mencerminkan respons pasar global terhadap eskalasi ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran serius mengenai stabilitas pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.
Data pasar menunjukkan bahwa harga minyak Brent telah menyentuh angka US$ 84,12 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate mencatatkan peningkatan hingga mencapai harga US$ 79,30 per barel.
Lonjakan harga yang terjadi saat ini secara efektif memangkas tren penurunan harga sebesar 30% yang sempat terjadi pada kuartal kedua tahun ini.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya sempat menerapkan kebijakan pelonggaran akses ekspor bagi Iran, yang memungkinkan negara tersebut menyalurkan sekitar 57 juta barel minyak mentah ke pasar global.
Kebijakan blokade terbaru ini disertai dengan tuntutan dari Donald Trump agar pihak kapal tanker membayar biaya penggantian sebesar 20% dari nilai muatan, atau setara dengan US$ 30 juta untuk setiap kapal tanker super yang beroperasi penuh.
Pihak Joint Maritime Information Center mengonfirmasi bahwa Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM akan menegakkan blokade terhadap seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran secara efektif.
Selain sektor minyak, harga komoditas gas alam di Eropa juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 3,3% yang merupakan titik tertinggi dalam periode tiga bulan terakhir.
Kawasan Selat Hormuz memegang peranan krusial dalam ekonomi global karena jalur laut ini dilalui oleh sekitar 20% dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menerima pembayaran kompensasi dari negara-negara mitra yang mendapatkan perlindungan keamanan di wilayah tersebut, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
Di pihak lain, militer Iran dilaporkan telah melancarkan tindakan balasan dengan menargetkan aset-aset milik Amerika Serikat di Kuwait menggunakan teknologi drone serta serangan rudal jelajah terhadap kapal musuh.
Uni Emirat Arab juga melaporkan terjadinya insiden penyerangan terhadap dua kapal tanker miliknya di perairan Oman saat melintasi jalur selatan Selat Hormuz.
Sebelum gelombang serangan terbaru ini terjadi, para produsen minyak di Teluk Persia sempat meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan pasar internasional setelah adanya kesepakatan sementara antara AS dan Iran.
“Menurut kami harga akan bertahan di kisaran US$ 80, kecuali ada perkembangan tertentu terkait Selat Hormuz, tapi saya tidak melihat harga akan naik ke US$ 90 atau US$ 100,” kata Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management, Jay Hatfield.
Jay Hatfield menambahkan bahwa jika kondisi selat kembali normal dan dibuka kembali, harga minyak dunia berpotensi mengalami penurunan ke level US$ 60 dalam waktu yang sangat singkat.
Situasi militer saat ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan gelombang serangan baru yang diluncurkan oleh pasukan Amerika Serikat terhadap target-target strategis di Iran.





