Jakarta – PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten yang dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro, resmi memperluas dominasinya di sektor tambang batu bara melalui akuisisi strategis atas 99% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk (PTRO) pada Rabu (22/7/2026).
Dilansir dari Katadata, transaksi bernilai Rp 1,73 triliun tersebut diklasifikasikan sebagai transaksi material karena setara dengan 110,26% dari total aset perseroan.
Langkah korporasi ini memberikan akses langsung bagi SINI terhadap tambang batu bara di Kutai Barat, Kalimantan Timur, yang dikelola oleh anak usaha KMS, yakni PT Cristian Eka Pratama (CEP).
Sebagai pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang berlaku hingga 2038, CEP tercatat memiliki cadangan batu bara mencapai 69,25 juta ton di area konsesi seluas 4.776 hektare.
Manajemen SINI meyakini bahwa penggabungan operasional di Kalimantan Timur dengan aset yang sudah ada di Kalimantan Tengah akan meningkatkan standar infrastruktur serta efisiensi jangka panjang.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, manajemen menyatakan bahwa akuisisi KMS berpotensi memberikan dampak positif terhadap usaha pertambangan perseroan melalui peningkatan aset, cadangan, kapasitas produksi, dan pertumbuhan laba.
Selain bertindak sebagai penjual, PTRO saat ini tetap menjadi mitra kontraktor pertambangan bagi PT Pasir Bara Prima (PBP), anak usaha SINI, dengan masa kontrak yang berlaku hingga tahun 2032.
Keberadaan PTRO sebagai mitra operasional dinilai membuka peluang terciptanya kontrak jasa pertambangan yang lebih kompetitif melalui optimalisasi alat berat, sumber daya, dan koordinasi yang lebih terpadu.
SINI memproyeksikan KMS mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan konsolidasi sebesar 21,4% pada 2026, yang kemudian meningkat menjadi 27,06% pada 2027.
Produksi batu bara di konsesi KMS ditargetkan tumbuh secara bertahap hingga mencapai kapasitas optimal sebesar 5 juta ton per tahun.
Strategi ini diambil untuk merespons permintaan batu bara global yang masih kuat, khususnya dari pasar Cina dan India, serta kebutuhan listrik nasional yang diproyeksikan tumbuh rata-rata 5,3% per tahun.
Selain itu, SINI berhasil memperoleh aset tersebut dengan harga sekitar 5,98% lebih murah dari nilai wajar yang ditetapkan oleh Kantor Jasa Penilai Publik sebesar Rp 1,84 triliun.
Integrasi aspek penjualan, produksi, hingga logistik dengan aset baru ini diharapkan dapat memperkuat daya tawar perusahaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi keuangan konsolidasi.
Berdasarkan data kepemilikan saham di bursa, Happy Hapsoro saat ini menggenggam 43,29 juta saham SINI atau setara dengan 9% dari total saham yang beredar.
Dampak Terhadap Kinerja Operasional dan Keuangan
Manajemen memperkirakan pendapatan dari KMS akan mencapai US$ 52 juta pada 2026 dan melonjak menjadi US$ 158,97 juta pada 2027.
Seiring dengan peningkatan produksi, perseroan juga membidik kenaikan volume penjualan batu bara yang jauh melampaui realisasi tahun 2025 sebesar 203.057 metrik ton.
Perseroan menegaskan bahwa akuisisi ini merupakan langkah kunci dalam memperbesar portofolio bisnis batu bara di tengah prospek industri yang masih menjanjikan.
Keberhasilan akuisisi di bawah harga pasar ini menjadi sinyal positif bagi investor mengenai kemampuan SINI dalam menjalankan ekspansi bisnis yang bernilai ekonomis tinggi.
Rencana penambangan ke depan akan terus disesuaikan dengan kondisi operasional, regulasi pemerintah, serta dinamika pasar batu bara internasional.
Ringkasan
PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten yang dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu dan Happy Hapsoro, resmi mengakuisisi 99% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) dari PT Petrosea Tbk senilai Rp 1,73 triliun pada Rabu (22/7/2026) untuk memperluas dominasi di sektor tambang batu bara Kalimantan.
Akuisisi strategis ini memberikan akses bagi SINI terhadap konsesi tambang seluas 4.776 hektare di Kutai Barat dengan cadangan batu bara mencapai 69,25 juta ton, yang diproyeksikan mampu meningkatkan kapasitas produksi hingga 5 juta ton per tahun.
Langkah korporasi ini dinilai menguntungkan karena harga pembelian tercatat 5,98% lebih murah dari nilai wajar pasar, serta diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan konsolidasi perseroan hingga 27,06% pada tahun 2027.





