Defisit APBN Juni 2026 Capai Rp196,5 Triliun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan keterangan pers mengenai APBN KiTa di Jakarta.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan kondisi APBN hingga akhir semester pertama tahun 2026.

Jakarta – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan defisit sebesar Rp 196,5 triliun hingga akhir semester pertama tahun 2026, sebagaimana diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (21/7/2026).

Dilansir dari Katadata, kondisi fiskal tersebut menunjukkan bahwa defisit saat ini setara dengan 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Baca Juga

Purbaya menyebutkan bahwa posisi APBN saat ini tetap dalam kondisi yang baik, ekspansif, dan terus memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional.

Defisit anggaran terjadi karena realisasi belanja negara selama enam bulan pertama tahun ini melampaui total pendapatan yang berhasil dikumpulkan pemerintah.

Pemerintah mencatat perolehan pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun, yang merepresentasikan 46,3% dari target tahunan sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Pada periode yang sama, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp 1.656 triliun atau setara dengan 43,1% dari total pagu belanja tahun anggaran 2026 yang ditetapkan sebesar Rp 3.842,7 triliun.

Selain defisit anggaran, keseimbangan primer APBN hingga Juni 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp 94,9 triliun.

Angka defisit keseimbangan primer tersebut telah melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2026, yakni sebesar Rp 89,7 triliun.

Meskipun demikian, realisasi defisit APBN pada Juni 2026 ini tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sebagai perbandingan, defisit APBN pada akhir Juni 2025 berada di angka Rp 197 triliun atau setara dengan 0,81% terhadap PDB.

Untuk keseluruhan tahun 2026, pemerintah kini mematok target defisit APBN sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.

Proyeksi terbaru ini lebih rendah dibandingkan angka yang sempat disampaikan Purbaya kepada Badan Anggaran DPR pada awal Juli lalu, yaitu sebesar Rp 734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB.

Purbaya menegaskan bahwa proyeksi tersebut masih berada di bawah ambang batas maksimal defisit sebesar 3% terhadap PDB meskipun pemerintah memutuskan untuk menaikkan outlook belanja negara.

Pemerintah memperkirakan total belanja negara sepanjang tahun 2026 akan mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu yang telah ditetapkan.

Outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah berupa subsidi dan kompensasi, kata Purbaya.

Dana tambahan belanja tersebut akan dialokasikan untuk beberapa tujuan strategis pemerintah:

  • Mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas pembangunan nasional di berbagai sektor.
  • Menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta melindungi daya beli masyarakat luas.
  • Mendukung efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di tingkat daerah serta penanganan bencana.
  • Menyalurkan tambahan dana otonomi khusus bagi wilayah yang memerlukan dukungan fiskal lebih besar.

Ringkasan

Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga akhir semester pertama 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB, akibat realisasi belanja negara sebesar Rp1.656 triliun yang melampaui pendapatan sebesar Rp1.459,4 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (21/7/2026), bahwa kondisi fiskal tetap terjaga dan ekspansif untuk mendukung pembangunan nasional.

Defisit APBN pada Juni 2026 ini tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp197 triliun. Pemerintah kini memproyeksikan defisit sepanjang tahun 2026 berada di angka Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB, angka yang masih berada di bawah ambang batas maksimal 3% meskipun terdapat penambahan outlook belanja negara untuk subsidi dan program prioritas.

Rekomendasi