Jakarta – Investor asing di pasar modal Indonesia terus mencatatkan aksi jual bersih sepanjang tahun ini dengan nilai akumulasi mencapai Rp 80 triliun hingga Selasa (28/7/2026).
Dilansir dari Katadata, tekanan arus keluar modal ini masih mendominasi perdagangan di Bursa Efek Indonesia, termasuk pada sesi hari ini yang mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp 1,1 triliun.
Kondisi ini dipicu oleh kebijakan moneter ketat atau hawkish yang masih dipertahankan oleh bank sentral di berbagai negara maju untuk menekan angka inflasi.
Sikap hawkish tersebut cenderung memicu kehati-hatian investor karena peningkatan biaya pinjaman dan berkurangnya likuiditas di pasar global.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menyatakan bahwa tekanan arus modal keluar berpotensi mereda jika pasar mendapatkan kepastian berakhirnya siklus pengetatan moneter global.
Nafan menjelaskan bahwa peralihan kebijakan bank sentral AS, The Fed, menuju arah yang lebih akomodatif akan memperbaiki selisih imbal hasil bagi aset di negara berkembang.
Namun, ia menegaskan bahwa faktor domestik memegang peranan yang sama krusialnya dalam menjaga minat investor asing di pasar saham nasional.
“Saya melihat faktor domestik juga sama pentingnya,” kata Nafan.
Investor global saat ini menaruh perhatian besar pada stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, hingga konsistensi kebijakan pemerintah.
Oleh karena itu, berakhirnya fase hawkish global belum tentu menjamin penghentian arus keluar modal secara otomatis jika fundamental domestik belum sepenuhnya mendukung.
Volatilitas arus dana asing diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring dengan sikap antisipasi pelaku pasar terhadap keputusan moneter The Fed.
Berikut adalah daftar 10 saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada perdagangan hari ini:
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 150 miliar.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 135,6 miliar.
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 50,9 miliar.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 48,4 miliar.
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 47,9 miliar.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 44 miliar.
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 32,2 miliar.
- PT Indika Energy Tbk (INDY) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 31,8 miliar.
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 30,6 miliar.
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatatkan nilai jual asing sebesar Rp 30,3 miliar.
Data tersebut mencerminkan sikap pelaku pasar yang cenderung menghindari aset berisiko di tengah ketidakpastian kebijakan suku bunga dunia.
Bloomberg Economics memprediksi The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dengan nada hawkish meskipun data inflasi bulanan menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Keputusan tersebut dinilai penting sebagai sinyal arah kebijakan moneter global yang akan berdampak langsung pada pergerakan arus modal di pasar negara berkembang.
Ringkasan
Investor asing mencatatkan aksi jual bersih di Bursa Efek Indonesia dengan nilai akumulasi mencapai Rp80 triliun hingga Selasa (28/7/2026), akibat kebijakan moneter ketat atau hawkish yang masih dipertahankan oleh bank sentral di berbagai negara maju.
Tekanan arus keluar modal ini dipicu oleh kekhawatiran global terhadap peningkatan biaya pinjaman dan berkurangnya likuiditas, yang memaksa investor cenderung menghindari aset berisiko di pasar negara berkembang.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menyatakan bahwa arus keluar modal baru akan mereda jika terdapat kepastian berakhirnya siklus pengetatan moneter global serta didukung oleh stabilitas fundamental ekonomi domestik, seperti nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi nasional.
