New York – Bursa saham Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan kenaikan pada perdagangan Jumat (31/7/2026) yang didorong oleh lonjakan harga saham sektor teknologi, meskipun pasar masih tertekan oleh tren peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah.
Dikutip dari Katadata, indeks Nasdaq Composite menguat 1% ke level 25.373,85, sementara S&P 500 tumbuh 0,7% menjadi 7.489,72 dan Dow Jones Industrial Average naik 276,97 poin ke level 52.485,03.
Tekanan di pasar modal muncul seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi tenor 30 tahun yang menyentuh level 5,25% atau posisi tertinggi sejak 2007.
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turut menembus angka 4,7% yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan imbal hasil ini dipicu oleh keraguan investor terhadap efektivitas kebijakan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam mengendalikan laju inflasi.
Kepala Strategi Ekuitas US Bancorp Asset Management Terry Sandven menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi mendekati 5% berisiko menekan sentimen pasar secara keseluruhan.
“Level ini berpotensi menekan sentimen pasar dan valuasi saham,” kata Terry Sandven.
Dia menambahkan bahwa kondisi pasar saat ini menyerupai wahana roller coaster yang dipenuhi oleh ketidakpastian sekaligus peluang bagi para pelaku pasar.
Faktor geopolitik berupa konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian karena mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate naik 1,3% ke level US$ 84,67 per barel dan minyak Brent menguat 1,2% menjadi US$ 90,12 per barel.
Sentimen pasar juga sangat dipengaruhi oleh rilis laporan keuangan dari perusahaan teknologi raksasa yang bergerak di bidang kecerdasan buatan.
Saham Amazon melonjak 15% setelah kinerja pendapatan kuartal kedua perusahaan berhasil melampaui ekspektasi para analis.
Pertumbuhan bisnis komputasi awan menjadi katalis utama bagi kinerja positif perusahaan tersebut di tengah optimisme belanja teknologi kecerdasan buatan.
Di sisi lain, saham Apple justru merosot lebih dari 7% akibat pendapatan dari segmen layanan yang tidak memenuhi target pasar.
Penurunan saham tersebut terjadi meskipun perusahaan mencatatkan pertumbuhan penjualan iPhone sebesar 22% pada kuartal fiskal ketiga.
Pergerakan ini mengikuti reli signifikan pada perdagangan sebelumnya yang dipimpin oleh lonjakan saham Microsoft sebesar 16%.
Penguatan tersebut menjadi pemulihan penting setelah indeks Dow Jones sempat anjlok lebih dari 1.100 poin pada awal pekan lalu.
Secara akumulasi mingguan, ketiga indeks utama Wall Street tetap berhasil mencatatkan kenaikan meskipun volatilitas pasar cukup tinggi.
Kinerja bulanan menunjukkan hasil yang bervariasi dengan S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq melemah 3,2% sepanjang Juli.
Sementara itu, Dow Jones berhasil membukukan kenaikan bulanan sebesar 0,3% sekaligus mencatat penguatan selama empat bulan berturut-turut.
Ringkasan
Bursa saham Wall Street berakhir menguat pada Jumat (31/7/2026), dengan indeks Nasdaq naik 1%, S&P 500 tumbuh 0,7%, dan Dow Jones menguat 276,97 poin, yang didorong oleh lonjakan harga saham sektor teknologi meskipun pasar dibayangi kenaikan imbal hasil obligasi.
Kenaikan pasar dipimpin oleh saham Amazon yang melonjak 15% berkat kinerja pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi, sebagai penyeimbang atas penurunan saham Apple sebesar 7% dan kekhawatiran investor terhadap efektivitas kebijakan Federal Reserve dalam mengendalikan inflasi.
Sentimen pasar tetap dipengaruhi oleh volatilitas tinggi akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang menyentuh level tertinggi sejak 2007, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
