Jakarta – Pasar saham Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan pada Selasa (21/7/2026) setelah IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 10,95% sepanjang bulan ini di tengah tekanan ekonomi yang melanda selama paruh pertama tahun berjalan.
Dilansir dari Katadata, para analis dari sejumlah sekuritas besar memutuskan untuk memangkas target indeks hingga akhir tahun akibat masih adanya risiko perlambatan ekonomi serta tekanan kinerja emiten.
Ketiga sekuritas yang dihubungi menetapkan target IHSG tidak melebihi level 8.000 hingga akhir tahun 2026.
Indeks melesat dari level 5.695 pada awal Juli menjadi 6.319 pada perdagangan sesi kedua hari ini.
Peningkatan juga terlihat pada nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia yang melonjak menjadi Rp 16-17 triliun dari sebelumnya hanya Rp 8-9 triliun.
Meskipun sentimen pasar mulai membaik, kenaikan indeks diproyeksikan tidak akan mencapai level 9.000-an seperti ekspektasi awal tahun.
Penyesuaian Target dari Sektor Sekuritas
Mirae Asset Sekuritas Indonesia secara resmi merevisi target IHSG hingga akhir tahun menjadi 6.800 dari angka sebelumnya 10.500.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menetapkan skenario bullish di level 7.800 dan skenario bearish di level 5.500.
“Kami ubah target IHSG dari sebelumnya 10.500 menjadi 6.800,” kata Rully.
Ia menambahkan bahwa ruang penguatan indeks masih terbatas karena risiko inflasi tinggi dan potensi penurunan status pasar Indonesia ke kategori frontier market oleh MSCI.
Untuk strategi investasi, mereka kini cenderung defensif dengan memilih saham berfundamental solid seperti PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas memandang Juli sebagai bulan pembalikan arah setelah indeks berhasil mematahkan pola downtrend sejak awal tahun.
Kiwoom menetapkan target IHSG yang lebih konservatif di kisaran 7.700 hingga 7.770 untuk penutupan akhir tahun.
Mereka mencatat adanya sinyal positif berupa aksi beli investor asing selama tiga hari berturut-turut, meskipun total tekanan jual asing sejak awal tahun masih mencapai Rp 90,88 triliun.
Di sisi lain, Sucor Sekuritas memberikan proyeksi yang lebih tinggi dibandingkan dua sekuritas lainnya.
Chief Executive Officer Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, menetapkan target indeks akhir tahun ini di level 8.000.
Target tersebut telah disesuaikan dari angka sebelumnya di level 10.000 dengan mempertimbangkan momentum dari enam emiten yang baru saja melakukan penawaran umum perdana atau IPO.
Ringkasan
Tiga sekuritas besar di Indonesia, yakni Mirae Asset, Kiwoom, dan Sucor Sekuritas, resmi memangkas target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk akhir tahun 2026 menjadi di bawah level 8.000 akibat risiko perlambatan ekonomi dan tekanan kinerja emiten.
Keputusan revisi ini diambil meskipun pasar saham menunjukkan pemulihan signifikan dengan kenaikan IHSG sebesar 10,95% sepanjang Juli 2026 dan lonjakan nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia hingga mencapai Rp 17 triliun.
Mirae Asset menetapkan target di level 6.800, Kiwoom di kisaran 7.700-7.770, dan Sucor Sekuritas di level 8.000, dengan alasan terbatasnya ruang penguatan indeks akibat ancaman inflasi, potensi penurunan status pasar menjadi frontier market, serta tekanan jual asing yang masih tinggi sejak awal tahun.





