Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi hingga Selasa (4/8/2026) tidak selalu memberikan dampak buruk bagi perekonomian nasional karena sejumlah sektor berbasis ekspor justru berpotensi meraup keuntungan dari kondisi tersebut.
Dilansir dari Katadata, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, memaparkan dalam riset bertajuk Indonesia Economic Outlook Q3-2026 bahwa depresiasi mata uang membuat produk lokal menjadi lebih murah serta kompetitif di pasar global.
Pelemahan nilai tukar dianggap mampu meningkatkan daya saing harga komoditas ekspor sehingga mendorong permintaan luar negeri sekaligus mendongkrak penerimaan devisa negara.
“Rupiah yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing harga sektor-sektor berorientasi ekspor di pasar internasional, yang berpotensi mendorong permintaan luar negeri dan pendapatan ekspor,” kata Teuku Riefky.
Dinamika Sektor Komoditas dan Pariwisata
Minyak sawit tercatat sebagai komoditas yang paling diuntungkan dari depresiasi rupiah karena kelompok lemak dan minyak hewani serta nabati menyumbang 13,55% dari total ekspor nonmigas Indonesia selama periode Januari hingga Mei 2026.
Meskipun demikian, dampak positif ini tidak selalu konsisten karena produksi sawit membutuhkan waktu tanam yang panjang dan sebagian besar perdagangan dilakukan melalui kontrak jangka panjang dengan harga tetap.
Kondisi serupa berlaku bagi sektor batu bara dan pertambangan yang menyumbang 11,56% dari total ekspor nasional pada periode yang sama.
Pengaruh nilai tukar terhadap ekspor batu bara cenderung terbatas karena transaksi dilakukan menggunakan harga acuan internasional dan lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan industri di negara pengimpor.
Ekspor nikel juga dinilai lebih bergantung pada kebijakan pemerintah mengenai hilirisasi serta permintaan dari Tiongkok dibandingkan dengan pergerakan kurs rupiah di pasar uang.
Industri pariwisata turut mendapatkan efek positif dari pelemahan mata uang karena biaya berwisata ke Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.
Namun, peningkatan kunjungan wisatawan asing sering kali lebih dipengaruhi oleh faktor musiman atau periode liburan daripada sekadar fluktuasi nilai tukar.
Tingkat volatilitas kurs yang terlalu tinggi justru berisiko menjadi hambatan bagi perjalanan internasional jika dianggap menciptakan ketidakpastian bagi para pelancong.
Ringkasan
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga Selasa (4/8/2026) berpotensi menguntungkan sejumlah sektor berbasis ekspor di Indonesia karena produk lokal menjadi lebih kompetitif di pasar global, menurut riset LPEM FEB UI. Kondisi depresiasi mata uang ini diprediksi mampu meningkatkan daya saing harga komoditas ekspor serta mendorong penerimaan devisa negara melalui peningkatan permintaan luar negeri.
Sektor komoditas seperti minyak sawit, batu bara, dan nikel menjadi pihak yang paling terdampak positif, meski efektivitasnya tetap bergantung pada kontrak jangka panjang, kebijakan hilirisasi, serta permintaan industri di negara pengimpor. Selain itu, industri pariwisata turut diuntungkan karena biaya berwisata ke Indonesia menjadi lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara selama nilai tukar rupiah melemah.
Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa dampak positif ini tidak selalu konsisten karena faktor eksternal seperti volatilitas kurs yang tinggi, siklus produksi, dan pola musiman kunjungan wisatawan tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja sektor-sektor tersebut.
