Bisnistalk.com, Jakarta – Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Senin (6/7/2026) dan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar amerika Serikat (AS).
Pada pukul 13.44 WIB, berdasarkan data Refinitiv, mata uang Garuda melemah 0,31% ke posisi Rp18.000 per US$.
Pergerakan ini memperdalam pelemahan rupiah sejak pembukaan pasar pagi tadi. Saat awal perdagangan, rupiah masih terkoreksi 0,12% ke level Rp17.970 per US$.
Posisi tersebut juga menandai kembalinya rupiah ke atas Rp18.000 per dolar AS setelah terakhir kali ditutup di level Rp18.050 per US$ pada 9 Juni 2026.
Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY, yang mencerminkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,17% ke level 101,030 pada pukul 13.45 WIB.
Namun, tekanan tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Pelaku pasar juga menyoroti data neraca perdagangan domestik yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS melaporkan neraca perdagangan indonesia defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Kondisi itu sekaligus mengakhiri rangkaian surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Situasi tersebut menambah sentimen negatif yang menekan pergerakan rupiah di pasar keuangan.




