Ritel Tertekan, Konsumen Tetap ke Mal Tapi Makin Irit

Bisnistalk.com, – Jakarta – Industri ritel diprediksi akan menghadapi tantangan signifikan pada paruh kedua tahun ini, dengan perubahan pola belanja konsumen kelas menengah ke bawah menjadi lebih selektif meskipun pusat perbelanjaan tetap ramai.

Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengemukakan bahwa tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan masih menunjukkan stabilitas, namun terjadi pergeseran substansial dalam nilai dan pola pengeluaran masyarakat.

Baca Juga

“Perubahan yang terjadi bukan pada tingkat kunjungan, melainkan pada tren atau pola belanja masyarakat, khususnya kelas menengah bawah,” ujar Alphonzus.

Menurut Widjaja, konsumen berpenghasilan menengah ke bawah kini cenderung memilih produk dengan harga yang lebih terjangkau sebagai respons terhadap daya beli yang belum sepenuhnya pulih.

Pergeseran perilaku konsumsi ini diperkirakan akan berdampak langsung pada performa penjualan sektor ritel sepanjang semester kedua tahun 2024.

Di samping itu, para pelaku usaha ritel juga dibebani oleh kenaikan biaya operasional yang kian meningkat.

Faktor-faktor seperti lonjakan harga bahan baku, biaya logistik dan energi, ketidakstabilan nilai tukar rupiah, pembatasan anggaran oleh pemerintah, serta tingginya suku bunga pinjaman berpotensi mengikis margin keuntungan para pebisnis.

Widjaja memperkirakan, akibat tekanan ganda tersebut, pelaku usaha mungkin terpaksa melakukan penyesuaian harga jual produk menjelang akhir tahun ini.

Langkah ini berisiko semakin menekan permintaan dari konsumen yang saat ini masih tergolong lemah.

Padahal, industri ritel masih memiliki peluang untuk meningkatkan penjualan secara signifikan melalui periode Natal dan Tahun Baru, yang merupakan musim belanja puncak kedua setelah periode Ramadan dan Idul Fitri.

“Industri ritel sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendongkrak kinerja semester kedua melalui periode Natal dan akhir tahun yang merupakan peak season kedua penjualan ritel di Indonesia,” katanya.

Dilansir dari Katadata.co.id, Widjaja menambahkan bahwa pada semester I 2024, kinerja industri ritel masih berhasil mencatatkan pertumbuhan positif.

Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh konsumsi masyarakat yang kuat pada kuartal pertama, dengan momentum perayaan seperti Ramadan, Idul Fitri, Tahun Baru Imlek, serta kenaikan upah menjadi pendorong utama peningkatan penjualan.

Rekomendasi