Bisnistalk.com, – Jakarta – Forum Pertemuan Tahunan (Leaders Retreat) Singapura-Indonesia di Istana Merdeka menghasilkan 26 nota kesepahaman, tidak hanya antara lembaga pemerintah tetapi juga kesepakatan bisnis ke bisnis (B to B). Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menekankan pentingnya penguatan kerja sama ekonomi dan pertahanan melalui beberapa inisiatif strategis.
Kesepakatan ini mencakup percepatan implementasi jual-beli listrik antara kedua negara. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan berkoordinasi dengan perusahaan energi Singapura, yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections (SEI) untuk merealisasikan proyek perdagangan listrik lintas batas ini.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar kerja sama perdagangan listrik ini memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan Singapura. “Indonesia telah menunjuk Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas,” ujar Prabowo dalam keterangan pers bersama.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa proyek penjualan listrik ke Singapura akan dimulai dengan pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Pemerintah masih memfinalisasi lokasi pasti pembangunan sebagai bagian dari pengembangan kawasan tersebut.
Proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas pembangkitan hingga 3,4 gigawatt (GW) secara bertahap. Tahap awal akan fokus pada pembangunan pembangkit berkapasitas antara 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt, sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan berikutnya.
Selain itu, Perdana Menteri Wong mengumumkan tahapan pengembangan baru untuk Kendal Industrial Park (KIP). Perluasan kawasan industri ini menjadi bagian dari upaya penguatan kerja sama investasi antara Indonesia dan Singapura.
KIP akan diperluas hingga 1.000 hektare guna menampung investasi baru. Wong menilai ekspansi kawasan industri yang dikembangkan melalui kerja sama Sembcorp dan Jababeka ini akan mendorong pertumbuhan aktivitas industri dan membuka lebih banyak lapangan kerja di Indonesia. “Kawasan tersebut telah mencapai kapasitas penuh dan kini akan diperluas lagi sebesar seribu hektare,” kata Wong. Ia menambahkan, perluasan ini akan mendorong lebih banyak investasi, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta mendukung pembangunan dan pertumbuhan Indonesia yang berkelanjutan.
Di sektor pertahanan, Singapura dan Indonesia sepakat memperkuat kerja sama melalui pengembangan fasilitas latihan bersama antara Singapore Armed Forces (SAF) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kedua negara sedang menjajaki pengembangan fasilitas latihan di Baturaja dan kawasan latihan senjata udara Siabu, Riau.
Wong menilai pengembangan fasilitas ini akan memperluas kesempatan bagi personel militer kedua negara untuk berlatih bersama. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperdalam hubungan pertahanan yang telah lama terjalin sekaligus memperkuat rasa saling percaya. “Inisiatif tersebut akan membuka lebih banyak kesempatan bagi kedua angkatan bersenjata untuk berlatih bersama dan memperdalam hubungan pertahanan yang telah lama terjalin,” ujar Wong.
Singapura juga berencana terus mendukung berbagai prioritas pembangunan Indonesia melalui program peningkatan kapasitas, khususnya di bidang kesehatan dan teknologi pertanian.
Presiden Prabowo dan PM Wong juga menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keamanan Selat Malaka agar tetap aman, terbuka, dan dapat diakses oleh seluruh pengguna jalur pelayaran internasional. Kedua negara memandang jalur ini harus menjamin kebebasan navigasi dan menjadi kawasan aman bagi aktivitas perdagangan global.
“Indonesia dan Singapura adalah negara yang berbatasan langsung di Selat Malaka. Kita berkepentingan untuk menjaga Selat Malaka sebagai jalur pelayaran yang bebas bagi semua pihak,” jelas Prabowo.
Indonesia dan Singapura berkomitmen menjaga keamanan Selat Malaka dari berbagai ancaman, termasuk perompakan, pencemaran, dan kecelakaan pelayaran. Upaya ini krusial mengingat Selat Malaka merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan dan rantai pasok global.
Prabowo menambahkan, Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Malaysia dan Thailand sebagai negara pantai untuk pengelolaan Selat Malaka, sesuai dengan ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.





