Jakarta – Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond senilai 7 miliar yuan, yang setara dengan US$1 miliar atau sekitar Rp 18,7 triliun, pada Kamis (23/7/2026).
Dilansir dari Katadata, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa tingkat imbal hasil atau yield dari instrumen ini jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan obligasi Dim Sum Bond yang biasanya diterbitkan di pasar Hong Kong.
Penerbitan surat utang tersebut terbagi ke dalam dua pilihan tenor yang berbeda untuk menarik minat investor global.
Obligasi dengan tenor 3 tahun diterbitkan senilai 5,6 miliar yuan dengan tingkat imbal hasil sebesar 1,90% per tahun.
Sementara itu, obligasi dengan tenor 5 tahun diterbitkan senilai 1,4 miliar yuan dengan tingkat imbal hasil mencapai 2,19% per tahun.
Respons pasar terhadap instrumen ini tergolong sangat tinggi dengan total permintaan yang masuk mencapai 17 miliar yuan.
Angka permintaan tersebut tercatat sekitar 2,4 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan jumlah obligasi yang ditawarkan oleh pemerintah.
Secara rinci, permintaan untuk tenor 3 tahun mencapai 2,2 kali lipat dari penawaran, sedangkan tenor 5 tahun mencapai 3,3 kali lipat.
Pemerintah memutuskan untuk tidak menyerap seluruh penawaran yang masuk meskipun minat investor sangat tinggi.
Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan masukan dari pihak underwriter guna menjaga stabilitas harga obligasi pada penerbitan di masa depan.
“Lead underwriter-nya bilang sekarang jangan terlalu dilebihin dulu,” kata Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (24/7/2026).
Ia menambahkan bahwa langkah ini diambil agar harga obligasi tetap terjaga dengan baik sehingga penawaran berikutnya bisa mendapatkan kondisi pasar yang lebih menguntungkan.
Purbaya menekankan bahwa angka imbal hasil yang diperoleh saat ini berada di bawah tingkat imbal hasil Global Bond.
Penerbitan Panda Bond merupakan salah satu langkah strategis pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pembiayaan di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus berubah.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa pemerintah memiliki alternatif sumber pendanaan yang efisien dengan biaya yang relatif lebih murah.
Terkait kemungkinan untuk kembali menerbitkan instrumen serupa dalam waktu dekat, Purbaya menyatakan bahwa pihaknya masih akan memantau kondisi pasar terlebih dahulu.
Pemerintah juga menepis keraguan publik mengenai peringkat kredit Panda Bond yang mendapatkan predikat AAA dari lembaga pemeringkat asal China.
Purbaya menegaskan bahwa peringkat tersebut merupakan hasil penilaian independen dari lembaga pemeringkat dan bukan merupakan klaim sepihak dari pemerintah.
“Rata kanan kan, ada yang bilang saya bohong, nggak,” kata Purbaya.
Ia memastikan bahwa predikat tersebut memang sesuai dengan hasil penilaian resmi yang diberikan oleh otoritas pemeringkat terkait.
Ringkasan
Pemerintah Indonesia resmi menerbitkan surat utang berdenominasi yuan atau Panda Bond senilai 7 miliar yuan (sekitar Rp 18,7 triliun) pada Kamis (23/7/2026) sebagai langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan negara di tengah dinamika pasar global.
Penerbitan ini mencatatkan respons pasar yang sangat tinggi dengan total permintaan mencapai 17 miliar yuan, atau 2,4 kali lipat dari jumlah yang ditawarkan, dengan tingkat imbal hasil sebesar 1,90% untuk tenor 3 tahun dan 2,19% untuk tenor 5 tahun.
Meskipun minat investor besar, pemerintah memilih untuk tidak menyerap seluruh permintaan guna menjaga stabilitas harga obligasi di masa depan. Selain itu, obligasi ini telah mendapatkan peringkat AAA dari lembaga pemeringkat asal China, yang sekaligus menegaskan efisiensi biaya pendanaan yang diperoleh pemerintah.





