Lelang Frekuensi Picu Persaingan Ketat Antaroperator Telekomunikasi Nasional

Bisnistalk.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) secara resmi mengumumkan hasil seleksi penggunaan pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Senin (13/7/2025) untuk memperkuat infrastruktur telekomunikasi nasional serta mendukung pemerataan akses jaringan di seluruh pelosok Indonesia.

Dilansir dari Katadata.co.id, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menyatakan bahwa distribusi spektrum ini menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat karena tidak ada satu operator pun yang mendominasi seluruh pita frekuensi strategis.

Baca Juga

Hasil seleksi pada pita 700 MHz menempatkan XLSmart di peringkat pertama dengan perolehan spektrum 30 MHz senilai Rp 1,06 triliun atau Rp 35,34 miliar per MHz.

Telkomsel menyusul di peringkat kedua dengan alokasi blok 20 MHz senilai Rp 642,5 miliar atau Rp 32,125 miliar per MHz.

Indosat menempati posisi ketiga pada pita 700 MHz dengan perolehan blok 20 MHz senilai Rp 507,48 miliar atau Rp 25,374 miliar per MHz.

Untuk pita frekuensi 2,6 GHz, Telkomsel berhasil menempati peringkat tertinggi dengan alokasi 80 MHz melalui penawaran sebesar Rp 545,84 miliar.

Indosat berada di urutan kedua untuk pita 2,6 GHz dengan perolehan alokasi 60 MHz senilai Rp 372 miliar.

XLSmart melengkapi hasil lelang pita 2,6 GHz dengan memperoleh alokasi 50 MHz senilai Rp 231,6 miliar.

Heru Sutadi menilai bahwa alokasi 700 MHz yang didapatkan XLSmart sangat efektif untuk memperluas jangkauan layanan di wilayah yang selama ini belum terlayani secara optimal, katanya.

Di sisi lain, Telkomsel memperkuat kapasitas jaringan melalui pita 2,6 GHz yang ditujukan khusus bagi kawasan dengan lalu lintas data tinggi, ujarnya.

Heru Sutadi menambahkan bahwa Indosat tetap berada dalam posisi kompetitif berkat kombinasi spektrum yang seimbang dari hasil lelang tersebut, tuturnya.

Meskipun fondasi jaringan generasi berikutnya menguat, pemerintah masih memiliki tugas untuk melanjutkan peta jalan penataan spektrum dengan melepas pita 3,5 GHz, ungkapnya.

Pita 3,5 GHz sangat diperlukan sebagai tulang punggung 5G, bahkan Indonesia harus mulai menyiapkan pita 6 GHz untuk evolusi menuju 5G Advanced dan 6G, katanya.

Pemerintah perlu melanjutkan peta jalan spektrum agar kapasitas jaringan mampu mengikuti pertumbuhan AI, cloud, dan ekonomi digital, ujarnya.

Masyarakat diperkirakan baru akan merasakan peningkatan kualitas layanan secara bertahap dalam waktu 12 hingga 24 bulan ke depan setelah seluruh proses integrasi selesai, ungkapnya.

Operator kini diwajibkan untuk memperoleh penetapan izin penggunaan spektrum, membangun infrastruktur, serta memenuhi komitmen perluasan layanan 4G dan 5G, katanya.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menyebut total spektrum untuk layanan seluler di Indonesia kini meningkat menjadi 712 MHz, katanya.

Jumlah tersebut dinilai belum ideal jika dibandingkan dengan proyeksi kebutuhan spektrum untuk jaringan 6G yang mencapai 200 MHz per operator, ujarnya.

Penambahan spektrum menjadi krusial mengingat data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan 64,6% pengguna internet di Indonesia mengandalkan jaringan seluler, katanya.

Pita frekuensi mid-band seperti 3,5 GHz dan 6 GHz akan menjadi spektrum paling strategis di masa depan karena mampu menawarkan keseimbangan antara jangkauan dan kapasitas, ujarnya.

Rekomendasi