Jakarta, Bisnistalk.com – Tekanan terhadap pasar saham Indonesia belum menunjukkan tanda mereda pada awal Juli, ketika IHSG masih bergerak jauh di bawah puncaknya pada Januari dan investor asing terus mencatatkan aksi jual bersih yang besar di pasar reguler.
Kondisi ini menempatkan pasar modal RI dalam fase yang rentan, di tengah kombinasi pelemahan kinerja indeks, keluarnya dana asing, dan sederet sentimen makroekonomi yang belum membaik.
Berdasarkan data RTI Business, IHSG terkoreksi 3,21% dalam sepekan terakhir dan jatuh 34,14% secara year to date (ytd).
Dalam periode satu semester, indeks acuan bursa Indonesia itu juga terperosok 33,87%, mencerminkan tekanan yang berlangsung berkelanjutan sejak awal tahun.
Pada perdagangan Rabu (1/7), investor asing kembali mencatatkan net sell senilai Rp 577,7 miliar. Aksi jual tersebut terjadi meski IHSG justru ditutup menguat 0,92% atau naik 51,92 poin ke level 5.695 pada penutupan sesi sore.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pasar masih dibayangi sejumlah faktor negatif pada awal Juli.
Tekanan utama datang dari defisit neraca dagang Indonesia yang menjadi yang pertama sejak 2020, serta pelemahan indeks PMI Manufaktur ke level 46,9 yang menandakan kontraksi aktivitas industri.
Sentimen negatif juga diperkuat oleh sikap wait and see dari MSCI hingga jadwal peninjauan pada November 2026. Di saat yang sama, inflasi yang naik menjadi 3,34% akibat lonjakan harga minyak turut menambah beban psikologis pasar.
Meski begitu, perusahaan sekuritas tersebut melihat masih ada penopang yang bisa membantu IHSG bertahan di sisa bulan ini. Salah satunya berasal dari faktor musiman atau seasonality, karena secara historis IHSG selalu ditutup menguat pada Juli dalam 10 tahun terakhir.
Dorongan lain juga berpotensi datang dari pemangkasan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masuknya musim rilis laporan keuangan semester I-2026, dan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah ke bank-bank Himbara.
Kombinasi ketiga faktor itu dinilai dapat menjadi penyeimbang di tengah tekanan jangka pendek yang masih kuat.
“Tekanan makro jangka pendek (neraca dagang, PMI, inflasi) masih membebani sentimen, namun histori seasonality Juli plus katalis domestik (SAL, earnings season) berpotensi jadi penyeimbang di sisa bulan ini,” tulis BRI Danareksa dalam analisisnya, Rabu (1/7).
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan juga mengakui bahwa pasar saham Indonesia tengah menghadapi persoalan yang tidak bisa dibiarkan berlarut.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut pelemahan yang terus terjadi menunjukkan ada hal yang perlu dibenahi secara serius.
“Kalau merah terus-terusan there must be something wrong dan itu yang harus kita jawab,” ujarnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (30/6).
Hasan menambahkan, industri pasar modal Indonesia kini memasuki babak baru yang menuntut pembenahan menyeluruh.
OJK bersama regulator pasar modal lainnya akan menjalankan langkah perbaikan untuk memperkuat integritas sekaligus mengembalikan kepercayaan terhadap pasar modal domestik.
Ia menjelaskan, perubahan cara dunia memandang risiko ikut memengaruhi Indonesia sebagai negara yang sedang bertransformasi.
Dalam situasi seperti ini, kebutuhan pembiayaan nasional menjadi semakin besar untuk menopang berbagai agenda strategis pemerintah.
Karena itu, Hasan menilai pasar modal harus kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber pembentukan modal jangka panjang bagi perekonomian.
Ia menegaskan bahwa pasar modal juga harus menjadi pusat investasi yang mampu mendukung pembiayaan pembangunan nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Dan menjadi pusat investasi untuk dapat mendukung pembiayaan pembangunan nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Hasan.





