Singapura – Harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, menyentuh level US$ 80 per barel pada Selasa (4/8/2026) di tengah upaya perundingan terakhir yang ditawarkan Presiden Donald Trump kepada Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk.
Dilansir dari Katadata, harga minyak WTI tercatat turun 0,4% menjadi US$ 80,02 per barel, sementara harga minyak Brent ditutup melemah di posisi US$ 83,77 per barel pada perdagangan hari sebelumnya.
Fluktuasi harga energi global ini dipicu oleh pecahnya kembali pertempuran akibat runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu serta meluasnya konflik hingga ke kawasan Laut Merah.
Donald Trump dilaporkan telah membatalkan rencana serangan militer berskala besar terhadap Iran demi mengedepankan jalur diplomasi terkait pembukaan akses di Selat Hormuz.
Presiden AS tersebut menyatakan harapannya agar jalur strategis yang krusial bagi distribusi energi dunia itu dapat segera dibuka kembali dalam waktu dekat.
“Ini adalah kesempatan terakhir bagi Iran untuk menandatangani dokumen yang baik sebelum pemenggalan,” kata Donald Trump.
Di sisi lain, pihak Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat dan justru mengonfirmasi tengah melakukan pembicaraan dengan Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di selat tersebut.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menegaskan bahwa Washington harus mengambil langkah pertama untuk mengubah perilaku mereka sebagai prasyarat bagi perbaikan hubungan.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital yang dalam situasi normal melayani distribusi sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya.
Associate Dean di Center for Global Affairs, Carolyn Kissane, menilai kondisi pasar akan terus mengalami ketidakpastian selama ancaman gangguan pasokan masih membayangi jalur pengiriman utama.
Selain konflik di Teluk Persia, aktivitas di pelabuhan ekspor utama Arab Saudi di Yanbu menunjukkan peningkatan lalu lintas kapal yang berlayar secara gelap tanpa menyalakan sistem identifikasi.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi sempat mengalami penurunan menjadi 4,19 juta barel per hari akibat hambatan keamanan di kawasan tersebut.
Tekanan terhadap pasar energi juga diperparah oleh eskalasi serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak di Rusia yang meningkat drastis sepanjang bulan Juli.
Tercatat sedikitnya 30 serangan menyasar kilang minyak, terminal ekspor, dan jaringan pipa utama yang menjadi angka tertinggi kedua sejak invasi penuh dimulai pada 2022.
Para pemilik kapal tanker kini dilaporkan mulai bersikap lebih berhati-hati dalam melakukan pemuatan di terminal Caspian Pipeline Consortium akibat risiko keamanan yang terus meningkat di wilayah pesisir Laut Hitam.
Ringkasan
Harga minyak dunia mengalami penurunan pada Selasa (4/8/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menawarkan perundingan diplomatik kepada Iran untuk meredakan ketegangan di kawasan Teluk dan Selat Hormuz. Penurunan harga ini terjadi di tengah upaya AS menghindari konflik militer terbuka guna menjamin kelancaran distribusi energi global di jalur strategis tersebut.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,4% menjadi US$ 80,02 per barel, sementara minyak Brent melemah ke posisi US$ 83,77 per barel. Meski Trump menekankan pentingnya negosiasi, pihak Iran membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS dan menyatakan hanya berkoordinasi dengan Oman terkait lalu lintas kapal.
Ketidakpastian pasar energi global semakin diperburuk oleh ancaman keamanan di Laut Merah, penurunan ekspor minyak Arab Saudi, serta meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan secara masif.
