Harga Minyak Dunia Naik Jadi US$ 87 Per Barel

Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia di layar monitor
Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan signifikan akibat ketegangan di Timur Tengah.

Singapura – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan pada Rabu (29/7/2026) setelah sempat mengalami tekanan jual tajam selama tiga hari berturut-turut akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global.

Dilansir dari Katadata, harga minyak mentah jenis Brent melonjak 3,3% menjadi US$ 86,85 per barel pada pagi hari ini, sementara harga West Texas Intermediate tercatat menguat 3,5% ke level US$ 82,06 per barel.

Baca Juga

Pergerakan harga komoditas ini menunjukkan volatilitas tinggi sepanjang bulan Juli dipicu oleh ketegangan yang kembali meningkat antara Amerika Serikat dan Iran.

Konflik tersebut kini meluas hingga ke wilayah Laut Merah, di mana kelompok Houthi yang didukung Teheran secara terbuka melontarkan ancaman untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan strategis milik Arab Saudi.

Eskalasi terbaru ini secara langsung memupus harapan pasar terhadap efektivitas upaya diplomatik yang telah dilakukan selama enam bulan terakhir untuk meredam ketegangan di kawasan tersebut.

Analis dari RBC Capital Markets LLC, termasuk Helima Croft, menyatakan keraguan mendalam mengenai kemungkinan tercapainya terobosan besar dalam negosiasi damai di tengah situasi yang kian memanas.

Militer Amerika Serikat mengonfirmasi pihaknya telah berhasil menggagalkan upaya serangan mendadak yang dilancarkan oleh pihak Iran terhadap pasukan mereka di wilayah tersebut.

Di sisi lain, fasilitas minyak di wilayah timur Arab Saudi dilaporkan kembali menjadi target serangan drone oleh milisi yang didukung Iran selama dua hari berturut-turut.

Meskipun Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan telah berhasil mencegat serangan tersebut, pihak Teheran melalui media pemerintah IRIB News secara resmi membantah keterlibatan mereka dalam insiden itu.

Ketegangan ini semakin diperkeruh oleh perselisihan mengenai kendali atas Selat Hormuz yang merupakan jalur pengiriman minyak paling vital bagi pasar internasional.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa jalur masuk selat tersebut harus berada sepenuhnya di bawah kendali penuh pemerintahnya.

Di Washington, Presiden Donald Trump melangsungkan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, guna membahas langkah-langkah strategis terkait potensi konflik yang lebih luas.

Manajer portofolio senior di Tortoise Capital Advisors LLC, Rob Thummel, mengatakan, “Masih ada ruang bagi kontrak minyak jangka pendek untuk turun, namun kontrak jangka panjang kemungkinan akan bergerak lebih tinggi kecuali tercapai solusi diplomatik.”

Ringkasan

Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus angka US$ 87 per barel pada Rabu (29/7/2026) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas hingga ke wilayah Laut Merah dan Selat Hormuz.

Minyak jenis Brent tercatat naik 3,3% menjadi US$ 86,85 per barel, sementara West Texas Intermediate menguat 3,5% ke level US$ 82,06 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh aksi serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi serta ancaman blokade pelabuhan strategis oleh kelompok Houthi yang didukung Iran.

Ketegangan ini memupus harapan pasar terhadap upaya diplomatik, terutama setelah militer Amerika Serikat menggagalkan serangan Iran dan adanya perselisihan mengenai kendali Selat Hormuz. Analis pasar memperkirakan harga minyak akan terus bergerak naik pada kontrak jangka panjang selama belum ada solusi diplomatik yang konkret.

Rekomendasi