Jakarta – Perum Damri tengah memproses pengajuan pinjaman sebesar US$37,5 juta atau setara dengan Rp672 miliar kepada Asian Development Bank (ADB) untuk memenuhi target pengadaan bus listrik bagi operasional Transjakarta pada Kamis (6/8/2026).
Dilansir dari Katadata, pendanaan tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai pengadaan sekitar 90 unit bus listrik serta pembangunan dua stasiun pengisian daya baru guna mendukung ekosistem transportasi berkelanjutan.
Koordinator Transportasi Darat dan Perkeretaapian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Handhi Setiawan Adiputra, mengungkapkan bahwa DAMRI telah menyerahkan proposal kepada kementeriannya sebagai syarat kelengkapan pengajuan pinjaman.
“Itu memang kemarin mengusulkan kepada kami, kami memberikan rekomendasi, Kementerian Keuangan juga, untuk dikeluarkan sebagai jaminan dari pemerintah,” kata Handhi.
Handhi menilai skema pinjaman yang diperoleh DAMRI tergolong cukup menguntungkan secara bisnis, terutama karena selaras dengan program energi bersih yang dijalankan oleh lembaga keuangan multilateral tersebut.
“Dengan bunga satu sampai dua persen, menurut saya, secara bisnis itu menguntungkan,” kata Handhi.
Vice President Sales and Marketing Perum DAMRI, Teguh Aditya Dharma, membenarkan bahwa perusahaan masih memiliki kewajiban untuk memenuhi sekitar 90 unit kendaraan listrik sesuai dengan kontrak yang disepakati dengan Transjakarta.
“Sedang kami upayakan, mudah-mudahan akhir tahun atau awal tahun kami bisa,” kata Teguh.
Teguh menjelaskan bahwa total target operasional bus listrik yang harus dipenuhi DAMRI untuk layanan Transjakarta mencapai sekitar 500 unit.
Hingga saat ini, tercatat baru ada 316 unit bus listrik yang telah beroperasi sejak program tersebut dimulai pada tahun 2023.
Teguh menyoroti tantangan dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik, mengingat dari total bus yang beroperasi, sebanyak 236 unit merupakan hasil impor utuh.
“Baru 80 unit yang bisa kami bangun di Indonesia, jadi kami impor CKD, sisanya kami melakukan perakitan dan pembangunan bodi di Indonesia,” kata Teguh.
Terkait fasilitas pengisian daya, DAMRI saat ini telah mengoperasikan empat titik stasiun pengisian yang masing-masing dilengkapi dengan 20 mesin pengisi daya.
Setiap mesin dirancang untuk melayani pengisian daya maksimal empat unit bus dalam satu hari agar operasional tetap berjalan efisien.
“Kalau lebih dari empat unit, kami tidak keburu,” kata Teguh.
Selain infrastruktur, Teguh mengakui bahwa tantangan lain yang dihadapi adalah kesiapan sumber daya manusia karena kemampuan mekanik dalam menangani teknologi bus listrik belum merata di seluruh wilayah.
Pihaknya saat ini terus mengintensifkan program pelatihan teknis bagi para mekanik agar operasional kendaraan listrik dapat berjalan optimal di berbagai kota.
“Sehingga pada saat di beberapa kota lain membutuhkan, kami juga siap,” kata Teguh.
Ringkasan
Perum DAMRI tengah mengajukan pinjaman senilai Rp672 miliar kepada Asian Development Bank (ADB) untuk mendanai pengadaan 90 unit bus listrik serta pembangunan dua stasiun pengisian daya guna memenuhi target operasional Transjakarta.
Pengajuan pinjaman tersebut saat ini berada dalam tahap pemrosesan rekomendasi oleh Bappenas dan Kementerian Keuangan dengan skema bunga rendah sebesar satu hingga dua persen yang dinilai menguntungkan secara bisnis.
Langkah ini dilakukan untuk mendukung target operasional 500 bus listrik bagi Transjakarta, di mana hingga saat ini baru tersedia 316 unit, sekaligus mengatasi tantangan pengembangan ekosistem kendaraan listrik seperti kesiapan infrastruktur pengisian daya dan peningkatan kompetensi teknis sumber daya manusia.





