Bursa Efek Indonesia Tetapkan Daftar Emiten Saham Berkonsentrasi Tinggi

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memperbarui daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dengan menambahkan 34 emiten baru berkapitalisasi besar per Senin (15/7/2026).

Dilansir dari laman resmi Bursa Efek Indonesia, langkah ini diambil otoritas bursa sebagai bagian dari reformasi pasar modal untuk memastikan transaksi yang teratur, wajar, dan efisien.

Baca Juga

Revisi kebijakan ini mengintegrasikan kriteria baru berupa price impact ratio yang secara khusus menyasar saham-saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.

Daftar terbaru tersebut mencakup sejumlah emiten ternama milik konglomerat, seperti PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), serta PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).

Selain itu, entitas di bawah naungan Grup Sinarmas seperti PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) dan PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) turut masuk dalam daftar pengawasan bursa tersebut.

Sebanyak 34 emiten baru yang masuk dalam daftar HSC meliputi PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA), PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), PT Bank Permata Tbk (BNLI), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Soho Global Health Tbk (SOHO), PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE), PT FAP Agri Tbk (FAPA), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), PT Siantar Top Tbk (STTP), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI), PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI), PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI), PT Hotel Fitra International Tbk (FITT), PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI), PT Golden Flower Tbk (POLU), PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII), dan PT Bank Mega Tbk (MEGA).

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa price impact ratio dihitung berdasarkan perbandingan perubahan harga saham terhadap velocity atau rasio rata-rata volume transaksi dibandingkan jumlah saham yang beredar di publik.

“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi,” kata Jeffrey.

Menurut Jeffrey, evaluasi menggunakan kriteria baru ini akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.

Penambahan 34 emiten baru tersebut menjadikan total saham yang masuk dalam kategori HSC mencapai 51 perusahaan di pasar modal domestik.

“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” kata Jeffrey.

Sebelum pengumuman ini, BEI telah memantau 14 emiten dengan tingkat konsentrasi saham yang sangat tinggi, termasuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Samator Indo Gas Tbk (AGII).

Rekomendasi