Bakrie Yakin IHSG Tembus 9.000 Dalam Tiga Tahun

Bisnistalk.com, – Jakarta – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali menembus level 9.000 dalam tiga tahun mendatang, meskipun saat ini IHSG mengalami penurunan 35% dari posisi tertinggi sepanjang masa di level 9.134 pada Januari 2026 menjadi 5.918 pada penutupan sesi I perdagangan, Jumat (10/7).

Dikutip dari pemberitaan terkait seremoni IPO PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), Anindya menyatakan keyakinannya tersebut didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat.

Baca Juga

“Saya bisa mengatakan gini, dalam jangka waktu 3 tahun, ini indeks bukan hanya kembali normal, akan lebih (tinggi) daripada sebelumnya,” kata Anindya.

Menurut Anindya, perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap memiliki prospek yang besar.

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di kelompok G20.

Selain itu, inflasi Indonesia tetap terkendali dan ruang fiskal pemerintah masih cukup besar karena rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) relatif rendah.

Namun, Anindya mengingatkan bahwa pemerintah dan pelaku usaha tidak boleh mengabaikan berbagai kritik terhadap pasar keuangan Indonesia.

“Tentu kita harus hati-hati. Segala kritik harus dijawab dengan pekerjaan,” ujarnya.

Anindya menyebutkan bahwa penurunan IHSG, yang dipicu oleh penilaian minus dari pengelola indeks global seperti MSCI dan S&P Dow Jones Indices, perlu disikapi secara objektif dengan melihat fundamental ekonomi Indonesia.

Sejumlah indikator makro masih menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.

Dalam tujuh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata berada di kisaran 5% dengan inflasi yang terjaga di level 1% hingga 2%.

Penciptaan lapangan kerja serta berbagai program penguatan ketahanan pangan dan energi dinilai menjadi fondasi positif bagi perekonomian Indonesia.

Anindya menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor di tengah tingginya ketidakpastian global.

Persepsi pasar akan tercermin pada nilai tukar rupiah maupun pergerakan pasar modal, sehingga konsistensi menjaga fundamental ekonomi menjadi kunci untuk membalikkan sentimen negatif.

“Cuma kita melihat juga ketika pasar melihat fundamentalnya terus konsisten, dan itu kita fokusnya ke sana deh, ke fundamental.

Nanti pada saatnya persepsi justru berbalik,” ucapnya.

Pelaku usaha di berbagai daerah masih melanjutkan ekspansi meski lebih berhati-hati.

Berdasarkan pemantauan Kadin di 38 provinsi, investasi pelaku usaha skala menengah masih tumbuh dibandingkan tahun lalu melalui belanja modal (capital expenditure).

Pertumbuhan investasi tersebut belum sebesar investasi di sektor-sektor strategis seperti hilirisasi mineral.

Anindya menganggap kondisi tersebut menunjukkan dunia usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek ekonomi Indonesia dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Rekomendasi