Integrasi Jaringan Listrik ASEAN Mampu Tekan Biaya Energi dan Perkuat Pasokan

Integrasi ASEAN Power Grid optimalkan sumber daya energi sekaligus perkuat ketahanan listrik.

SINGAPURA – Perdagangan listrik lintas negara di kawasan ASEAN dinilai mampu menekan biaya energi sekaligus memperkuat ketahanan pasokan listrik nasional.

Integrasi regional memungkinkan negara dengan surplus energi menjual kelebihannya kepada negara yang membutuhkan untuk menghindari pembangunan pembangkit baru yang mahal.

Direktur Eksekutif ASEAN Centre for Energy (ACE) Razib Dawood menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan manfaat utama pengembangan ASEAN Power Grid (APG).

Jaringan listrik terintegrasi membantu negara anggota mengoptimalkan sumber daya energi yang distribusinya tidak merata di kawasan Asia Tenggara.

“Ini tentang pasar yang lebih besar dan efisiensi,” kata Razib dalam wawancara di sela-sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Rabu (28/10/2026).

Razib menegaskan bahwa efisiensi dalam perdagangan energi berujung pada penghematan biaya serta pencegahan pemborosan sumber daya.

Ia mencontohkan kerja sama bilateral antara Sarawak Energy di Malaysia dan PLN di Indonesia sebagai model integrasi yang berhasil.

Kalimantan Barat kini memperoleh pasokan listrik tenaga air dari Sarawak sebagai alternatif yang lebih efisien dibandingkan penggunaan pembangkit berbahan bakar diesel.

“Indonesia membeli listrik dari Sarawak karena energinya lebih murah,” ujar Razib.

Pemerintah tidak perlu menunggu seluruh infrastruktur domestik rampung dibangun untuk mulai memanfaatkan sumber energi dari negara tetangga.

Interkoneksi listrik juga berperan vital dalam menjaga keandalan pasokan saat suatu negara menghadapi lonjakan permintaan atau gangguan teknis.

Tanpa dukungan jaringan tersebut, negara berisiko menerapkan pemadaman bergilir yang dapat menghambat kegiatan ekonomi.

Razib mendorong ASEAN untuk memperluas skema kerja sama dari bilateral menjadi perdagangan multilateral guna meningkatkan efisiensi transmisi.

Negara seperti Laos yang memiliki potensi besar pada energi tenaga air dan angin dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui jaringan ini.

Vietnam telah membuktikan efektivitas skema tersebut dengan membeli listrik dari Laos untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.

Pengembangan infrastruktur transmisi, termasuk kabel bawah laut dan jaringan antarpulau, menjadi komponen krusial dalam menyambungkan sumber energi dengan pusat permintaan.

Setiap negara anggota tetap memiliki keleluasaan untuk memperkuat jaringan domestik sembari memanfaatkan perdagangan energi regional.

“ASEAN tidak memaksa semua negara untuk menyepakati semuanya,” tutur Razib.

Negara yang telah memiliki kesiapan infrastruktur dapat bergerak lebih cepat untuk mengimplementasikan integrasi energi.

Integrasi listrik yang lebih luas akan membantu negara anggota mengurangi pemborosan investasi dan membangun sistem energi yang lebih tangguh.

“Bersama-sama, kita dapat bergerak lebih jauh dan lebih cepat,” pungkas Razib.

Rekomendasi