Wall Street Menguat Seiring Penurunan Laju Inflasi Amerika Serikat

New York – Bursa Wall Street di Amerika Serikat mencatatkan penguatan pada perdagangan Selasa (14/7/2026) yang didorong oleh reli pada saham sektor semikonduktor serta rilis data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

Dilansir dari CNBC International, indeks S&P 500 naik 0,38% ke level 7.543, Nasdaq menguat 0,9% menjadi 26.107,01, dan Dow Jones Industrial Average naik tipis 9,63 poin atau 0,02% ke level 52.508,27.

Baca Juga

Kenaikan indeks Dow Jones terhambat oleh anjloknya saham International Business Machines (IBM) hingga 25% setelah perusahaan memberikan peringatan bahwa laba kuartal kedua akan berada di bawah ekspektasi akibat pelemahan permintaan bisnis perangkat lunak dan infrastruktur.

Sektor semikonduktor mengalami kebangkitan signifikan setelah aksi jual pada sesi sebelumnya, dengan ETF VanEck Semiconductor (SMH) melonjak 2,5%.

Saham Applied Materials dan Teradyne masing-masing mencatatkan penguatan lebih dari 3%.

Emiten Lam Research dan Micron Technology melesat sekitar 5%, sementara STMicroelectronics ditutup naik lebih dari 2%.

Sentimen positif pasar didukung oleh data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juni yang turun 0,4% secara bulanan, sehingga inflasi tahunan melambat ke angka 3,5%.

Angka inflasi tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang sebelumnya memperkirakan penurunan bulanan sebesar 0,2% dan inflasi tahunan sebesar 3,8%.

Data inflasi yang lebih rendah ini menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Juli merosot menjadi 17% dari sebelumnya 42%.

Meskipun demikian, pelaku pasar masih mengantisipasi peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September dengan probabilitas hampir 60% untuk kenaikan sebesar 25 hingga 50 basis poin.

Kepala Investasi Regan Capital, Skyler Weinand, menyatakan bahwa rendahnya data IHK menunjukkan lonjakan inflasi yang dipicu konflik di Iran mulai mereda, meski kondisi tersebut mungkin hanya bersifat sementara.

Menurut Weinand, data inflasi yang lemah memberikan ruang bagi The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat sehingga peluang pengetatan kebijakan moneter ikut menurun.

Namun, Weinand mengingatkan investor agar tetap waspada karena pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, sejauh ini masih bernada hawkish.

“Warsh berupaya mengendalikan harga konsumen dan alat terbaik yang dimiliki The Fed saat ini adalah menaikkan suku bunga,” kata Weinand.

Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres AS, Kevin Warsh menyebutkan bahwa lonjakan inflasi selama lima tahun terakhir diperkirakan segera menjadi bagian dari masa lalu.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS ditutup naik 1,5% ke atas US$ 79 per barel, sementara minyak mentah Brent menguat 1,7% ke atas US$ 84 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah Donald Trump membatalkan rencana pengenaan biaya 20% bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, meskipun harga tetap tinggi menyusul serangan baru AS terhadap Iran.

Sektor perbankan turut memberikan kontribusi positif, di mana saham Goldman Sachs melonjak 9% setelah membukukan laba yang melampaui estimasi analis.

Saham JPMorgan Chase dan Bank of America turut mencatatkan kenaikan masing-masing lebih dari 2% dan hampir 2% setelah merilis laporan keuangan kuartal kedua.

Rekomendasi