Trump Borong Saham Teknologi Jelang Reli Wall Street

Bisnistalk.com, – Washington D.C. – Presiden Amerika Serikat tercatat melakukan investasi saham teknologi bernilai miliaran dolar sesaat sebelum pasar saham Wall Street mengalami lonjakan signifikan, sebuah fenomena yang menarik perhatian para pengamat etika dan keuangan. Dokumen pengungkapan keuangan yang baru saja dirilis mengungkap ribuan transaksi saham yang dilakukan oleh akun investasi yang terafiliasi dengan Presiden, termasuk pembelian besar-besaran pada perusahaan teknologi terkemuka seperti Apple, Nvidia, dan Microsoft sepanjang tahun 2025. Aktivitas investasi ini terjadi di tengah gejolak pasar yang dipicu oleh pengumuman kebijakan tarif global oleh pemerintahan Presiden pada April tahun lalu, sebuah periode yang kemudian diikuti dengan pemulihan pasar yang dinamis.

Pada tanggal 8 April 2025, sebuah hari yang kemudian disebut oleh Presiden sebagai “hari pembebasan” dalam konteks kebijakan tarifnya, akun investasi Presiden melakukan pembelian 327 saham individu dengan nilai lebih dari 3,6 juta dolar Amerika Serikat. Analisis terhadap dokumen tersebut menunjukkan bahwa tidak ada penjualan saham yang dilakukan pada hari yang sama, menjadikan 8 April sebagai hari tersibuk ke-11 dalam hal pembelian saham sepanjang tahun 2025. Angka ini jauh melampaui rata-rata harian sekitar 62 transaksi yang tercatat.

Pembelian saham yang difokuskan pada perusahaan teknologi berkapitalisasi besar ini terjadi setelah kebijakan tarif yang diumumkan pada 2 April 2025 memukul sebagian besar pasar. Indeks S&P pada akhir sesi 8 April 2025 berada di bawah angka 5.000, hanya sedikit di atas ambang batas pasar bearish, dan dalam empat hari sebelumnya, indeks acuan pasar saham tersebut telah anjlok lebih dari 12%. Keesokan harinya, Presiden Trump mengunggah pesan di media sosial yang menyatakan bahwa saat itu adalah “waktu yang tepat untuk membeli” saham, dan pada sore hari yang sama, ia mengumumkan penundaan sebagian besar tarif resiprokal yang sebelumnya diberlakukan terhadap banyak negara.

Pengumuman penundaan tarif tersebut memicu lonjakan pasar saham Amerika Serikat yang luar biasa, di mana Indeks S&P 500melonjak lebih dari 9% dalam satu hari, mencatat kenaikan harian terbesar sejak krisis keuangan global tahun 2008. Rangkaian peristiwa ini menimbulkan pertanyaan dari sejumlah pengawas etika mengenai potensi hubungan antara keputusan kebijakan pemerintah dan aktivitas investasi yang dilakukan melalui akun milik Presiden.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Gedung Putih membantah adanya konflik kepentingan. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa Presiden maupun keluarganya tidak pernah dan tidak akan terlibat dalam konflik kepentingan dalam menjalankan tugasnya. Presiden Trump sendiri juga menegaskan bahwa ia tidak terlibat secara langsung dalam pengelolaan investasinya. Dalam berbagai wawancara dan pernyataan kepada wartawan, ia menjelaskan bahwa seluruh asetnya dikelola oleh pihak eksternal, sementara anak-anaknya mengawasi sejumlah aset yang ditempatkan dalam trust keluarga. “Saya tidak terlibat. Ada dana yang mengelola uang saya,” ujar Trump, mengutip pernyataan yang disampaikan kepada CNBC Internasional.

Dokumen keuangan tersebut juga menyoroti transaksi investasi besar lainnya di luar periode gejolak tarif. Pada 18 Agustus 2025, salah satu akun investasi Presiden mencatat transaksi terbesarnya sepanjang tahun, dengan nilai melebihi 75 juta dolar Amerika Serikat. Pada hari itu, akun yang sama membeli saham Nvidia, Apple, dan Microsoft masing-masing senilai antara 5 juta hingga 25 juta dolar. Selain itu, kepemilikan di perusahaan teknologi raksasa lainnya seperti Amazon, Alphabet, dan Broadcom juga turut ditingkatkan.

Investasi besar-besaran di sektor teknologi ini juga bertepatan dengan dorongan pemerintah Amerika Serikat untuk memperkuat industri kecerdasan buatan atau AI. Pada hari yang sama ketika Gedung Putih mengumumkan AI Action Plan pada Juli 2025, salah satu akun investasi Presiden membeli saham sejumlah perusahaan teknologi besar dengan total nilai antara 6 juta hingga 30 juta dolar. Nvidia, Apple, Microsoft, Amazon, Broadcom, dan Alphabet termasuk di antara emiten yang menjadi sasaran pembelian.

Analisis lebih lanjut terhadap dokumen keuangan menunjukkan bahwa akun investasi Presiden melakukan lebih dari 21 ribu transaksi saham sepanjang tahun 2025. Jumlah transaksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pengungkapan yang lazim dilakukan oleh presiden-presiden Amerika Serikat sebelumnya, dengan rata-rata nilai transaksi mencapai sekitar 4,2 juta dolar per hari. Beberapa analis menilai pola transaksi yang sangat aktif ini bisa mencerminkan strategi investasi yang agresif atau praktik pengelolaan pajak tertentu, meskipun kedekatan aktivitas tersebut dengan keputusan kebijakan pemerintah tetap menjadi fokus perhatian para pengawas etika.

Bagi para pelaku pasar finansial, yang paling menarik dari temuan ini bukanlah semata-mata besarnya nilai transaksi, melainkan waktu pelaksanaan pembelian saham teknologi tersebut. Transaksi terjadi ketika pasar sedang terguncang akibat kebijakan tarif dan tepat sebelum dimulainya reli besar di Wall Street. Saham-saham teknologi besar seperti Nvidia, Apple, dan Microsoft kemudian terbukti menjadi motor penggerak utama kenaikan pasar Amerika Serikat pada periode setelah penundaan tarif dan meningkatnya optimisme terhadap perkembangan industri AI.

Rekomendasi