Tiga Emiten Kesehatan Siap IPO Angkat Sektor Anjlok

Bisnistalk.com, – Jakarta – Sektor kesehatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi tantangan signifikan, terbukti dari penurunan indeks IDXHealth sebesar 31% sepanjang tahun berjalan hingga Jumat (3/7). Namun, para analis memproyeksikan potensi pemulihan pada paruh kedua 2026, dengan kehadiran emiten-emiten baru yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan mengembalikan minat investor.

Tiga perusahaan dari sektor kesehatan dijadwalkan melantai di bursa pekan ini, yaitu PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang bergerak di perakitan alat diagnostik, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JEXC) sebagai penyedia layanan rumah sakit mata, dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) yang bergerak di perdagangan alat laboratorium.

Baca Juga

Perusahaan-perusahaan ini berpandangan bahwa kebijakan pemerintah yang terus mendorong peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan menjadi penopang utama prospek industri. Anggaran kesehatan yang dialokasikan dalam APBN 2026 tercatat sebesar Rp 244 triliun, menunjukkan komitmen berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program cek kesehatan gratis, pengendalian penyakit, serta peningkatan fasilitas dan layanan kesehatan.

Dalam penawaran umum perdana saham (IPO), EMMI dan JECX memilih harga penawaran di kisaran menengah. EMMI membanderol sahamnya di Rp 470 per lembar, sementara JEXC menetapkan harga Rp 1.250 per saham. PRDL, anak usaha PT Prodia Widyahusada Tbk, menempatkan harga IPO-nya di batas atas rentang penawaran, yaitu Rp 120 per saham.

Analisis dari Henan Putihrai Sekuritas menyoroti PRDL sebagai emiten yang menarik. Perusahaan ini mencatat pendapatan Rp 74 miliar dengan laba bersih Rp 17 miliar, serta return on equity (ROE) sekitar 20%. Rasio harga terhadap laba (PER) berada di kisaran 7-9 kali, dengan kapitalisasi pasar pasca-IPO diperkirakan mencapai Rp 174–Rp 209 miliar. Meskipun demikian, kinerja pendapatan PRDL masih tergolong volatil.

“Valuasi termurah dan merek Prodia,” ungkap Henan Putihrai Sekuritas dalam analisisnya, sembari mencatat catatan mengenai topline yang volatil dan emisi terkecil yang berpotensi menimbulkan risiko likuiditas.

EMMI juga dinilai layak dicermati. Perusahaan distribusi alat kesehatan ini melaporkan pendapatan Rp 455 miliar pada tahun lalu, meningkat 18%, dengan laba bersih melonjak 188% menjadi sekitar Rp 33 miliar. ROE perusahaan mencapai 22% dengan PER 24–28 kali, dan kapitalisasi pasar diperkirakan Rp 777–Rp 898 miliar. Namun, valuasi EMMI dianggap relatif mahal dan masih memiliki risiko konsentrasi pelanggan.

Untuk JECX, Henan Putihrai Sekuritas melihat aset berkualitas yang dikelola oleh rumah sakit mata JEC. Namun, IPO emiten ini dinilai kurang menarik karena PER yang tinggi, yakni 55–64 kali, dan ROE yang relatif rendah sebesar 8,9%. Laba bersih JECX tercatat turun menjadi Rp 71 miliar dari sebelumnya Rp 124 miliar, meskipun pendapatan naik 4% menjadi Rp 927 miliar. Kapitalisasi pasar pasca-IPO diperkirakan Rp 3,90 triliun–Rp 4,55 triliun.

Azharys Hardian, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, berpandangan bahwa sektor kesehatan memiliki peluang untuk bangkit pada paruh kedua 2026. Ia optimis kehadiran emiten-emiten baru akan meningkatkan likuiditas dan menarik kembali perhatian investor.

“Bisnis rumah sakit dan layanan kesehatan pada dasarnya bersifat defensif serta memiliki daya tahan yang tinggi terhadap gejolak makroekonomi,” ujar Azharys.

Ia mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan, mengingat ketergantungan pada impor alat kesehatan. Namun, ia menyoroti aksi akumulasi saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) oleh PT Astra International Tbk (ASII) sebagai indikasi bahwa investor institusi masih melihat prospek jangka panjang sektor ini.

Elandry Pratama, analis Panin Sekuritas Cabang Pondok Indah, sepakat bahwa koreksi IDXHealth lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar, rotasi sektor, dan valuasi emiten kesehatan yang sebelumnya sudah cukup tinggi.

Fundamental industri tetap kuat, didukung oleh peningkatan kesadaran masyarakat akan layanan kesehatan, bertambahnya peserta JKN, populasi lanjut usia, pertumbuhan kelas menengah, serta ekspansi rumah sakit dan layanan diagnostik.

“Secara bisnis prospeknya masih menarik,” kata Elandry, “Namun pemulihan harga saham kemungkinan berlangsung secara bertahap seiring membaiknya pertumbuhan laba dan sentimen pasar.”

Dari jajaran emiten kesehatan yang telah terdaftar, Azharys menilai saham HEAL memiliki peluang teknikal paling menarik dengan potensi kenaikan lebih lanjut. Saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) masih dalam tren penurunan dan berpotensi menguji area support dalam jangka pendek.

Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) bergerak dalam fase konsolidasi, dengan potensi menguat jika mampu menembus area resistance. Saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menghadapi tekanan di area resistance psikologis, sementara PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi.

Dari sisi fundamental, Elandry merekomendasikan HEAL dan MIKA sebagai pilihan utama, didukung oleh prospek ekspansi rumah sakit dan konsistensi fundamental. SILO juga dinilai memiliki prospek bisnis yang baik, meskipun ruang kenaikan harga sahamnya relatif terbatas. CARE menarik untuk investasi jangka panjang jika ekspansi berjalan sesuai rencana. KAEF diperkirakan masih membutuhkan waktu untuk proses transformasi bisnis dan peningkatan efisiensi.

Rekomendasi