Washington – Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5% hingga 3,75% dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berlangsung pada Kamis (30/7/2026).
Dikutip dari Katadata, kebijakan tersebut diambil melalui proses pemungutan suara yang mencatatkan hasil 9 berbanding 3 di antara para pengambil kebijakan.
Tiga anggota yang menyatakan ketidaksetujuan atau berbeda pendapat adalah Presiden The Fed Dallas Lorie Logan, Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari.
Para pejabat yang berbeda pendapat tersebut tercatat menginginkan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk merespons kondisi ekonomi terkini.
Menanggapi perbedaan suara tersebut, pejabat The Fed menegaskan bahwa hal itu tidak akan mengubah komitmen bank sentral untuk mengembalikan angka inflasi ke target 2%.
“Bagi sebagian rumah tangga, pelaku usaha, dan pelaku pasar, lima tahun inflasi tinggi telah menimbulkan kesan yang keliru bahwa target inflasi implisit The Fed berada di atas 2%. Izinkan saya menegaskan kembali, tidak ada target inflasi yang longgar,” kata Warsh dalam konferensi pers usai rapat FOMC.
Warsh menekankan bahwa keputusan untuk menahan suku bunga tidak boleh diartikan sebagai sikap pasif dari bank sentral Amerika Serikat.
Lembaga tersebut tetap memegang teguh mandat utamanya untuk senantiasa menjaga stabilitas harga di pasar domestik.
Pernyataan resmi FOMC pun tidak mengalami perubahan signifikan jika dibandingkan dengan pertemuan yang dilakukan pada bulan Juni sebelumnya.
The Fed kembali menegaskan komitmen kuatnya untuk mewujudkan stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Meski saat ini suku bunga tertahan, Warsh mengakui bahwa kenaikan masih terbuka lebar apabila tekanan inflasi tetap bertahan dalam jangka waktu ke depan.
“Jika inflasi terus tinggi sepanjang periode proyeksi, suku bunga sangat mungkin menjadi bagian dari solusinya. Namun saya tidak mengatakan bahwa itu menjadi satu-satunya solusi,” ujar Warsh.
Alasan utama The Fed belum menaikkan suku bunga kali ini adalah karena suku bunga pasar telah bergerak naik sejak rapat sebelumnya.
Kenaikan di pasar tersebut dinilai telah merepresentasikan sebagian dari penyesuaian yang selama ini diharapkan oleh pihak bank sentral.
Kondisi ini juga berkaitan dengan kebijakan The Fed yang mulai mengurangi panduan mengenai arah suku bunga di masa mendatang.
“Pasar telah mengambil keputusan karena kami mengurangi upaya untuk memengaruhi ekspektasi mereka. Penilaian pasar terhadap tingkat suku bunga nominal di sepanjang kurva imbal hasil Treasury telah meningkat,” jelas Warsh.
Keputusan ini menandai kali kelima secara berturut-turut bagi The Fed untuk tetap menahan suku bunga acuan di level yang sama.
Munculnya tiga suara yang mendukung kenaikan menunjukkan adanya kekhawatiran yang meningkat terhadap tekanan inflasi yang masih cukup tinggi.
Tekanan inflasi tersebut terjadi meskipun data bulan Juni sempat menunjukkan adanya perlambatan yang lebih besar dari perkiraan awal.
Harga konsumen di Amerika Serikat bahkan sempat mencatat penurunan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir yang didorong oleh penurunan harga bahan bakar.
Di sisi lain, The Fed masih terus mewaspadai risiko inflasi yang dipicu oleh kembali memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Eskalasi di wilayah tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent menembus angka US$100 per barel sebelum akhirnya turun kembali.
Pihak FOMC juga menilai bahwa kondisi pasar tenaga kerja di Amerika Serikat saat ini masih berada dalam kategori relatif kuat.
Dalam pernyataan resminya, ekonomi dinilai tumbuh dengan laju yang solid berkat dukungan investasi modal dan produktivitas yang tetap terjaga.
Ringkasan
Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% dalam rapat FOMC pada Kamis (30/7/2026) guna menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian ekonomi.
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 9 berbanding 3, di mana tiga pejabat The Fed yakni Lorie Logan, Beth Hammack, dan Neel Kashkari menyatakan ketidaksetujuan dan mendorong kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Meskipun menahan suku bunga, The Fed menegaskan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target 2% dan membuka peluang kenaikan lebih lanjut jika tekanan inflasi tetap tinggi, terutama akibat risiko geopolitik di Timur Tengah dan kondisi pasar tenaga kerja yang masih solid.





