Sistem Verifikasi Transaksi Mandiri Berbasis Kecerdasan Buatan Terkini

Bisnistalk.com, Jakarta – Perusahaan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) Privy sedang mengembangkan infrastruktur kepercayaan digital berbasis kriptografi untuk memverifikasi tindakan agen kecerdasan buatan (AI) dalam melakukan transaksi keuangan mandiri pada Rabu (11/3/2026).

Dilansir dari AFTECH, langkah ini diambil untuk menjawab tantangan hukum saat agen AI mulai mengambil keputusan, menyetujui kontrak, atau memindahkan dana tanpa campur tangan langsung dari manusia.

Baca Juga

CEO dan Co-founder Privy, Marshall Pribadi, menyatakan bahwa kebutuhan akan mekanisme identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan secara kuat menjadi semakin krusial seiring dengan meningkatnya hak dan kewajiban hukum yang ditimbulkan oleh aktivitas AI.

“Digital trust tidak hanya relevan untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga akan menjadi fondasi penting bagi ekosistem ekonomi digital berbasis AI di masa depan,” kata Marshall Pribadi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi panel Beyond Banking: Rewiring the Financial System di acara Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026.

Transformasi ini muncul seiring dengan fase baru sektor jasa keuangan di Indonesia yang semakin mengintegrasikan layanan perbankan, fintech, dan platform digital melalui konsep Universal Banking, Embedded Finance, serta Open Finance.

Menurut Marshall Pribadi, kepercayaan merupakan elemen vital yang memungkinkan berbagai layanan digital beroperasi secara aman dan efisien dalam ekosistem yang saling terhubung tersebut.

Ia menekankan bahwa setiap keputusan dan transaksi yang dijalankan oleh AI harus memiliki rekam jejak identitas serta otorisasi yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan secara hukum.

Selama ini, banyak institusi keuangan masih mengandalkan berbagai lapisan verifikasi identitas secara mandiri untuk memitigasi risiko fraud.

Namun, ketergantungan pada proses verifikasi internal yang terpisah dinilai meningkatkan biaya operasional dan mengurangi efisiensi pengalaman pengguna.

“Kami melihat digital trust sebagai infrastruktur bersama yang dapat diandalkan oleh berbagai pelaku industri untuk memperkuat kepastian identitas, mengurangi kompleksitas verifikasi, dan mendukung pertumbuhan ekosistem keuangan yang lebih efisien,” ujar Marshall Pribadi.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat bahwa tingkat inklusi keuangan di Indonesia telah mencapai 80,51 persen.

Tantangan bagi industri keuangan saat ini bergeser dari sekadar memperluas akses menjadi upaya memastikan keamanan transaksi, baik yang dilakukan oleh manusia maupun oleh mesin.

Dalam ekosistem ini, digital trust berevolusi menjadi infrastruktur yang memungkinkan institusi untuk saling terhubung dengan tingkat kepastian yang lebih tinggi.

Privy menyediakan fondasi tersebut melalui layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk mendukung berbagai kebutuhan seperti pembukaan rekening, e-KYC, hingga pengajuan pembiayaan.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menilai bahwa keberhasilan transformasi menuju era beyond banking sangat bergantung pada kemampuan pelaku ekosistem dalam membangun standar kepercayaan bersama.

“Transformasi menuju era beyond banking pada dasarnya adalah upaya membangun ekosistem keuangan yang semakin terhubung dan berpusat pada kebutuhan masyarakat,” ujar Firlie Ganinduto.

Ia menambahkan bahwa penguatan infrastruktur digital trust merupakan elemen kunci untuk memastikan kolaborasi, inovasi, dan pertumbuhan sektor keuangan digital berlangsung secara berkelanjutan.

Rekomendasi